Frugal Living Jadi Tren Anak Muda, Hemat Bukan Lagi Tanda Kekurangan
Frugal living tidak lagi sekadar soal menekan pengeluaran, tetapi telah menjadi bagian dari nilai sosial baru yang menekankan konsumsi secara bijak dan tidak berlebihan
Periskop.id - Gaya hidup hemat atau frugal living kini semakin populer di kalangan generasi muda Indonesia. Hidup irit kini tak lagi dipandang sebagai simbol keterbatasan ekonomi. Pola hidup ini justru berkembang menjadi identitas baru yang mencerminkan kesadaran finansial, kesederhanaan, dan nilai hidup modern.
Antropolog Universitas Indonesia Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto menilai, perubahan ini menunjukkan pergeseran cara pandang anak muda terhadap konsumsi dan gaya hidup. “Sekarang hemat itu adalah pilihan sadar, karena kita memang mau hemat saja, enggak mau boros,” kata Semiarto seperti dikutip dari Antara, Jumat (8/5).
Menurutnya, frugal living tidak lagi sekadar soal menekan pengeluaran, tetapi telah menjadi bagian dari nilai sosial baru yang menekankan konsumsi secara bijak dan tidak berlebihan. Menurut Semiarto, generasi muda kini lebih rasional dalam mengelola keuangan. Mereka mempertimbangkan manfaat dari setiap pengeluaran, bukan sekadar mengikuti tren atau gengsi.
“Apa yang dikeluarkan dan apa yang didapat. Mengeluarkan dengan harga yang masuk akal, yang wajar, dan mendapatkan sesuai dengan apa yang diharapkan,” ujarnya.
Perubahan ini juga didorong oleh kesadaran terhadap dampak konsumsi berlebihan, baik secara finansial maupun lingkungan. “Jangan boros-boros, jangan over consumption, enggak perlu lagi beli yang mahal-mahal atau yang berlebih, cukup saja,” imbuhnya.
Menariknya, gaya hidup hemat kini juga berkaitan erat dengan cara generasi muda membangun citra diri, terutama di media sosial. Kesederhanaan justru menjadi nilai estetika baru yang dianggap lebih autentik.
“Sekarang bicara penampilan itu yang clean, yang bersih, simple, itu keren,” ujar Semiarto.
Frugal living pun tidak lagi identik dengan “pelit”, melainkan bagian dari strategi self-presentation atau cara seseorang menampilkan identitas sosialnya. “Frugal living bukan sekadar hemat atau pelit, tapi itu adalah cara kita menampilkan diri di publik,” serunya.
Perubahan Nilai
Dalam perspektif antropologi, fenomena ini disebut sebagai reframing, yakni perubahan cara pandang terhadap konsumsi. “Dalam bahasa antropologi itu kita sebut sebagai reframing, mengerangkai ulang nilai konsumsi dari sekadar pamer status menjadi disiplin diri,” ucapnya.
Jika sebelumnya konsumsi sering dikaitkan dengan simbol status dan kemewahan, kini generasi muda lebih menekankan kontrol diri dan kesadaran dalam membelanjakan uang.
Tren frugal living juga tidak lepas dari kondisi ekonomi global. Data Bank Indonesia menunjukkan tekanan inflasi dan kenaikan biaya hidup di perkotaan mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih bijak dalam mengatur keuangan.
Selain itu, laporan Deloitte Global 2025 menyebutkan, Gen Z dan milenial semakin memprioritaskan stabilitas finansial jangka panjang dibanding gaya hidup konsumtif. Fenomena ini juga diperkuat oleh tren minimalisme global yang mengedepankan hidup sederhana, berkelanjutan, dan bebas dari konsumsi berlebihan.
Dengan kombinasi antara kesadaran finansial, estetika sederhana, dan perubahan nilai sosial, frugal living diprediksi akan terus berkembang sebagai gaya hidup utama generasi muda. Bukan sekadar tren sesaat, pola hidup ini menjadi refleksi dari cara baru anak muda dalam memaknai uang, identitas, dan kebahagiaan.
Tinggalkan Komentar
Komentar