Periskop.id - PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI mencatat pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada kuartal I 2026. Bank syariah terbesar di Indonesia itu membukukan laba sebesar Rp2,2 triliun atau tumbuh 17,1% secara tahunan (year on year/yoy).
Kinerja positif tersebut ditopang peningkatan dana pihak ketiga (DPK), pertumbuhan dana murah, hingga meningkatnya minat generasi muda membuka tabungan haji dan umrah.
“Kami di BSI, Alhamdulillah, mencatat pertumbuhan laba sebesar 17,1 % yaitu Rp2,2 triliun. Ini didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga yang tertinggi di industri, dan dana murah yang juga tertinggi di industri,” kata Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo di Jakarta, Selasa (12/5).
BSI mencatat Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 17,99% secara tahunan menjadi Rp376,8 triliun. Sementara dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) meningkat 21,36% menjadi Rp236,24 triliun.
Menurut Anggoro, peningkatan dana murah tersebut menjadi salah satu faktor penting yang menjaga efisiensi biaya dana dan menopang pertumbuhan laba perseroan. Ia menyebut strategi perusahaan dalam memperluas layanan tabungan haji dan umrah menjadi motor utama peningkatan penghimpunan dana masyarakat.
Tabungan Haji
BSI mencatat tren menarik dari kelompok usia muda yang kini mulai aktif membuka tabungan haji sejak dini. Nasabah tabungan haji dari kelompok usia 21 hingga 40 tahun atau kalangan milenial dan Gen Z tercatat mencapai sekitar 1,2 juta nasabah.
Sementara total nasabah tabungan haji BSI dari seluruh kelompok usia mencapai 6,11 juta orang. “Ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk beribadah sejak dini sudah mulai terlihat karena komposisi usia muda meningkat,” ujar Anggoro.
Fenomena ini dinilai menjadi sinyal positif meningkatnya literasi keuangan syariah di kalangan generasi muda Indonesia. Selain itu, meningkatnya pembukaan rekening tabungan haji juga mendorong kenaikan pangsa pasar atau market shareperseroan.
BSI mencatat market share meningkat menjadi 53,6 % pada 2025, naik dari posisi di bawah 50% pada 2023.
Terbesar Kelima
Kinerja positif pada kuartal I 2026 juga memperkuat posisi BSI di industri perbankan nasional. BSI kini tercatat sebagai bank terbesar kelima di Indonesia dari sisi aset maupun laba. Total aset perseroan meningkat 14,78% secara tahunan menjadi Rp460,13 triliun.
Untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan, perseroan menyiapkan tiga fokus strategi utama, yakni penguatan dana murah, pembiayaan sehat, dan peningkatan pendapatan berbasis biaya (fee based income).
“Fokus pada dana murah, fokus pada pembiayaan yang sehat dan sustain (berkelanjutan)… dan juga kontribusi yang ditopang dari bisnis emas yang punya kontribusi terhadap fee-based income,” ucap Anggoro.
Kinerja BSI sejalan dengan tren positif industri perbankan nasional sepanjang awal 2026. Sejumlah bank besar juga mencatat pertumbuhan laba pada kuartal I tahun ini.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya menyebut ketahanan industri perbankan nasional masih cukup kuat ditopang likuiditas memadai, pertumbuhan kredit, serta peningkatan dana masyarakat. Di sektor perbankan syariah, BSI dinilai menjadi salah satu motor utama pengembangan ekosistem keuangan syariah nasional, termasuk layanan haji, umrah, emas, dan pembiayaan berbasis syariah.
Pertumbuhan nasabah muda dalam produk tabungan haji juga dinilai membuka peluang besar bagi ekspansi layanan syariah digital di masa depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar