periskop.id - Nadiem Makarim dalam dugaan korupsi Chromebook mengungkapkan dirinya dilahirkan dalam keluarga pejuang antikorupsi. Hal ini disampaikan saat Nadiem membacakan eksepsi.

“Dari kecil, saya disuruh orang tua duduk di meja makan mendengar aktivis-aktivis antikorupsi berdebat mengenai arah negara kita,” kata Nadiem, saat membacakan eksepsi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin (5/1).

Nadiem mengaku, dari orang tuanya, ia belajar berbagai nilai kebangsaan yang berdasarkan integritas. Bahkan, ia merasa sangat beruntung karena keluarganya mampu menguliahkan dirinya ke luar negeri.

Meskipun menempuh pendidikan tinggi dari S1 sampai S2 di luar negeri, Nadiem akhirnya berkarier di Indonesia.

"Walaupun banyak kenyamanan yang bisa saya dapatkan saat berkarir di luar negeri, Indonesia selalu menarik daya kembali. Memang Indonesia punya banyak masalah, tetapi di dalam permasalahan itulah saya merasa bisa berkontribusi," tutur dia.

Kontribusi yang Nadiem rintis adalah membangun Gojek. Ia membangun Gojek usai mendengarkan keluhan langsung dari lapangan.

“Banyak orang tidak tahu sejarah Gojek yang penuh dengan keringat dan tetes air mata. Saya mengunjungi puluhan pangkalan ojek, hanya dengan bekal traktir kretek dan kopi saya berupaya meyakinkan mereka bahwa ada cara lebih baik untuk meningkatkan nafkah mereka,” lanjut dia.

Nadiem mengaku banyak yang menertawainya saat awal perjalanan Gojek sampai menuduh ojek tidak bisa dipercayai dan tidak profesional. Namun, setelah bertahun-tahun pantang mundur, terbukti ojol sekarang menjadi pilar ekonomi Indonesia.

“Gojek menghidupi lebih dari 3 juta masyarakat Indonesia saat ini, baik driver maupun UMKM. Saya tidak mendirikan Gojek untuk memperkaya diri. Saya mendirikan Gojek karena saya melihat potensi ekonomi dari teman teman ojek yang tidak dilihat orang lain,” tegas Nadiem.

Sejak kecil, Nadiem juga menyampaikan, orang tuanya selalu mengingatkan, kesuksesan tidak ada artinya tanpa pengabdian. Kata-kata tersebut yang menjadi dasar pertimbangannya saat ditawarkan amanah untuk menjadi Mendikbudristek.

Saat itu, hampir semua orang membujuk dirinya untuk menolak jabatan tersebut lantaran takut Nadiem akan dihujat karena perubahan pasti akan dilawan.

Menurut Nadiem, beberapa pihak takut Nadiem akan diserang karena mantan Mendikbudristek tersebut tidak memiliki dukungan partai politik.

“Hampir semua orang di sekitar saya membujuk saya untuk menolak jabatan tersebut. Mereka takut saya akan dihujat karena perubahan pasti akan dilawan. Mereka takut saya akan diserang karena saya tidak punya dukungan partai politik,” ungkap dia.

Semua orang juga bingung kenapa di puncak kesuksesan dalam bisnis di Gojek, Nadiem mempertimbangkan suatu jabatan yang sudah pasti merugikan secara finansial dan reputasi.

"Tetapi saya menerima amanah tersebut karena satu alasan, yaitu negara memanggil, generasi penerus bangsa memanggil. Menolak artinya menutup mata terhadap krisis pendidikan yang melanda negara kita," ucap Nadiem.

Eksepsi disampaikan Nadiem atas dakwaan kasus dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan berupa pengadaan Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di lingkungan Kemendikbudristek pada 2019–2022.