Periskop.id - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengungkapkan situasi krusial di balik proyek pengadaan Chromebook.

Nadiem menjelaskan, kebijakan tersebut terakselerasi setelah para guru di seluruh Indonesia serentak “berteriak” meminta fasilitas laptop karena kewalahan mengajar daring hanya bermodalkan telepon seluler (HP).

“Para guru dan kepala sekolah menyuarakan bahwa mereka tidak memiliki sarana TIK yang memadai untuk melaksanakan pendidikan jarak jauh secara efektif. Guru-guru se-Indonesia serentak berteriak. Komplain utamanya adalah: sangat sulit melaksanakan pembelajaran daring menggunakan HP mereka,” kata Nadiem di Pengadilan Tipikor PN Jakarta Pusat, Selasa (23/6).

Mengelola satu kelas virtual melalui platform Zoom atau Google Classroom dianggap hampir mustahil dilakukan secara efektif lewat layar HP yang kecil karena sulit memaparkan materi.

“Hampir mustahil guru bisa melaksanakan PJJ (pembelajaran jarak jauh). Layar kecil membuat penyampaian berbagai materi pembelajaran tidak optimal. Mereka mendesak kepala dinas dan kementerian untuk segera menyediakan sarana laptop,” tegas Nadiem.

Urgensi penyediaan fasilitas ini kian memuncak ketika tim Kemendikbudristek menyadari adanya ancaman penurunan capaian belajar atau learning loss yang berisiko berdampak permanen pada generasi muda Indonesia. Ancaman ini dapat terjadi jika proses PJJ terus-menerus tidak berjalan optimal.

“Kami merasakan urgensi yang sama, karena kami menyadari bahwa learning loss adalah risiko nyata dan secara saintifik bisa berdampak permanen pada generasi muda. Setiap hari anak mengalami learning loss, semakin besar tanggung jawab kita terhadap masa depan generasi; dampaknya bisa permanen,” urai Nadiem.

Tekanan emosional dan manajemen krisis itu, lanjut Nadiem, membuat fungsi proyek TIK di kementeriannya bergeser cepat. Skema pengadaan laptop yang awalnya hanya direncanakan untuk memfasilitasi program Asesmen Nasional, seketika dinaikkan menjadi program tanggap darurat nasional demi menopang kegiatan belajar mengajar harian.

“Di titik ini tim menyadari bahwa ada dua tujuan pengadaan laptop. Semula hanya untuk pelaksanaan Asesmen Nasional, kini kebutuhan pembelajaran berbasis daring meningkat statusnya menjadi darurat,” ungkap Nadiem.

Keputusan ini terjadi karena Nadiem terpaksa merombak seluruh rencana awal demi menyelamatkan nyawa sekaligus menjaga pembelajaran tetap berjalan daring.

“Dalam situasi krisis ini, seluruh rencana awal harus di-reset. Prioritas utama berubah tiba-tiba menjadi dua. Pertama, menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa di lingkungan sekolah dan kampus. Kedua, memastikan agar pembelajaran tetap berlangsung secara daring,” ujar Nadiem.