periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive!
Di dunia yang bergerak serba cepat ini, kita sering kali dipaksa untuk memakai topeng "Si Paling Tangguh". Kita dituntut untuk selalu tampil prima di kantor, selalu tersenyum di depan keluarga, dan pantang mengeluh saat menghadapi tumpukan masalah hidup.
Slogan-slogan motivasi di media sosial terus menyuruh kita untuk tetap produktif, tidak boleh menyerah, dan harus selalu kuat dalam kondisi apa pun. Perlahan tapi pasti, tuntutan ini membuat batin kita kelelahan. Kita lupa bagaimana rasanya menjadi manusia biasa yang bisa hancur, bisa sedih, dan bisa kehabisan tenaga.
Lalu, datanglah bulan Ramadan. Bulan yang seolah membongkar paksa semua kepalsuan dan topeng ketangguhan tersebut.
Lapar yang Meruntuhkan Kesombongan
Secara fisik, puasa membuat kita lemah. Memasuki jam dua belas siang, mata mulai mengantuk. Menjelang jam empat sore, tubuh terasa sangat lemas dan energi seakan terkuras habis.
Menariknya, rasa lemah ini terjadi by design alias memang sengaja dirancang oleh Sang Pencipta. Saat perut kita kenyang dan tubuh penuh energi, ego kita membesar. Kita merasa bisa menaklukkan dunia sendirian dan tidak butuh siapa-siapa.
Namun saat tenggorokan mengering dan perut keroncongan, kesombongan itu runtuh seketika. Kita disadarkan pada satu fakta mutlak bahwa tanpa segelas air dan sepiring nasi dari Allah, kita bukanlah siapa-siapa.
Allah SWT sendiri telah menegaskan hakikat penciptaan kita dalam Surah An-Nisa ayat 28:
يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
(Latin: Yuriidullaahu an yukhaffifa 'ankum, wa khuliqal insaanu dha'iifaa)
Artinya: "Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah."
Ayat ini adalah sebuah validasi yang luar biasa melegakan dari jalur langit. Sang Pencipta sendiri mengakui bahwa kita ini pada dasarnya memang lemah. Jadi, untuk apa kita terus-menerus membohongi diri sendiri dan berpura-pura selalu kuat?
Menemukan Kekuatan dalam Kepasrahan
Ramadan adalah ruang aman yang Allah sediakan bagi kita untuk menepi. Di bulan ini, kamu diperbolehkan untuk lelah. Kamu diizinkan untuk menangis di atas sajadah dan mengeluhkan betapa beratnya beban hidup yang sedang kamu pikul.
Rasulullah SAW mengajarkan sebuah kalimat zikir yang sangat indah untuk diucapkan saat kita merasa sudah tidak sanggup lagi memikul beban hidup sendirian. Kalimat ini adalah bentuk pengakuan paling jujur atas kelemahan diri kita:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
(Latin: Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah)
Artinya: "Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Membaca kalimat ini saat sedang lelah berpuasa atau lelah bekerja memberikan efek psikologis yang luar biasa. Kita melepaskan kendali palsu yang selama ini kita genggam erat-erat, lalu menyerahkannya sepenuhnya kepada Yang Maha Kuat.
Buka Topengmu Sejenak
Sobat Halalive, berhentilah bersikap keras pada dirimu sendiri di bulan ini. Jika kamu merasa mengantuk saat jam istirahat kantor, tidurlah sejenak. Jika kamu merasa tidak sanggup memasak menu berbuka yang mewah karena kelelahan, belilah lauk seadanya tanpa perlu merasa bersalah.
Biarkan rasa lapar dan haus di siang hari membimbingmu menjadi hamba yang utuh, yaitu hamba yang tahu kapan harus berhenti, kapan harus meminta tolong, dan kapan harus bersandar pada Tuhannya.
Mari Berbagi Ruang Aman
Kita semua pasti punya titik lelah yang sering disembunyikan dari orang lain demi terlihat baik-baik saja. Kalau boleh jujur, beban hidup apa yang paling membuatmu merasa lelah belakangan ini dan ingin kamu adukan kepada Allah di bulan Ramadan ini? Tuliskan pelan-pelan di kolom komentar, mari jadikan tempat ini sebagai ruang aman untuk saling mendengarkan. 👇
Sumber Rujukan:
- Surah An-Nisa Ayat 28:
- Hadits tentang Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah (HR. Bukhari):
Tinggalkan Komentar
Komentar