periskop.id - Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey mengimbau investor untuk tetap rasional dan fokus pada aspek fundamental saat berinvestasi, di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Menurutnya, ketidakpastian global yang meningkat menuntut setiap investor menyesuaikan strategi investasi sesuai dengan toleransi risiko masing-masing.

"Ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey di gedung BEI, Senin (2/3).

Langkah ini, kata Jeffrey, penting agar investor dapat mengambil keputusan yang bijak dan menjaga portofolio tetap sehat meski pasar menghadapi gejolak geopolitik. Dengan tetap mengedepankan fundamental, investor diharapkan mampu menghadapi volatilitas pasar dan meminimalkan risiko kerugian yang tidak perlu.

"Sesuaikan strategi investasi dengan toleransi risiko masing masing investor,” jelasnya.

Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai menembus psikologis investor domestik, mendorong IHSG membuka perdagangan hari ini dengan tekanan berat.

Menyusul eskalasi konflik Timur Tengah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bereaksi negatif. IHSG Senin 2 Maret 2026 dibuka dengan koreksi 1,88% ke level 8.080,39 atau turun 155,10 poin dibanding penutupan sebelumnya.

Tekanan berlanjut hingga penutupan sesi I ketika IHSG merosot 131,767 poin atau 1,60% ke level 8.103,718. Sepanjang sesi, indeks bergerak dalam rentang 8.039,508 hingga 8.133,692 dengan total volume transaksi mencapai 33,27 miliar saham senilai Rp16,61 triliun dari 2.184.734 frekuensi perdagangan. Mayoritas saham mengalami tekanan, 645 melemah, 110 menguat, dan 62 stagnan.