periskop.id - Pengamat ekonomi Indonesia Strategic and Economics Action Institution, Ronny P. Sasmita menilai kenaikan kupon Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berpotensi meningkatkan daya tarik, terutama bagi investor asing yang mencari yield menarik dengan risiko relatif rendah. 

Menurut Ronny langkah yang dilakukan Bank Indonesia bisa memperkuat aliran dana masuk (capital inflow) dan membantu stabilisasi nilai tukar.

Advertisement

"Kenaikan kupon ini memang berpotensi meningkatkan daya tarik tersebut, terutama bagi investor asing yang mencari yield menarik dengan risiko relatif rendah," kata Ronny kepada Periskop, Rabu (17/6). 

Kendati demikian, Ronny menyebut ada potensi crowding out yang perlu dicermati. Jika imbal hasil SRBI terlalu menarik, bank dan investor domestik bisa lebih memilih menempatkan dana di instrumen tersebut dibandingkan menyalurkannya ke kredit sektor riil. 

"Dalam kondisi tertentu, ini bisa memperketat likuiditas dan menahan pertumbuhan kredit," jelas Ronny.

Dampaknya terhadap pasar SBN juga cukup menarik. Kenaikan yield SRBI bisa mendorong penyesuaian yield di pasar obligasi pemerintah, karena investor akan membandingkan risk-return profile antar instrumen. 

"Dalam jangka pendek, ini bisa memberikan tekanan pada harga SBN," tambah Ronny.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa perbankan tidak semata-mata akan beralih ke SRBI. Fungsi intermediasi tetap menjadi core bisnis mereka. Keputusan alokasi aset akan sangat bergantung pada kondisi likuiditas, profil risiko, dan permintaan kredit itu sendiri. 

"Jika permintaan kredit masih kuat dan kualitas debitur terjaga, bank tetap akan menyalurkan kredit," tutur dia.

Secara keseluruhan, kata Ronny, kebijakan ini mencerminkan trade-off klasik antara stabilitas makro dan pertumbuhan. Dalam jangka pendek, mungkin ada penyesuaian di sektor riil dan konsumsi. 

"Namun dalam jangka menengah, stabilitas inflasi, nilai tukar, dan ekspektasi pasar justru menjadi fondasi yang lebih sehat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," Ronny mengakhiri.