periskop.id - Indonesia resmi ditetapkan sebagai Partner Country pada gelaran Industrial International Exhibition (INNOPROM) 2026, pameran industri internasional bergengsi yang digelar pada 6-9 Juli 2026 di Yekaterinburg, Rusia. Penetapan ini menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk menampilkan kemampuan, daya saing, serta kesiapan industri nasional di hadapan dunia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan partisipasi Indonesia sebagai Partner Country merupakan langkah strategis untuk memperkuat branding nasional sebagai negara industri yang kompetitif, inovatif, dan terbuka terhadap kolaborasi internasional.

“Partisipasi Indonesia sebagai Partner Country INNOPROM 2026 merupakan momentum penting untuk menunjukkan kemampuan dan daya saing industri nasional di hadapan dunia. Indonesia ingin hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai mitra strategis yang menampilkan komitmen terhadap inovasi, keberlanjutan, dan pertumbuhan industri yang inklusif,” ujar Agus di Jakarta, dikutip Jumat (23/1).

INNOPROM dikenal sebagai etalase inovasi, teknologi, dan kerja sama industri global, mempertemukan pelaku industri, investor, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara. Sejak pertama kali digelar pada 2010, INNOPROM telah menjadi pameran industri terbesar di kawasan Asia Tengah dan Eurasia, dengan hampir 1.000 exhibitor dan area seluas 50.000 meter persegi.

Hubungan kerja sama industri antara Indonesia dan Federasi Rusia telah terjalin kuat dan mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari pupuk, farmasi dan alat kesehatan, metalurgi, galangan kapal, industri krisotil, hingga pengembangan industri halal.

"Fondasi kerja sama ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memaksimalkan peran sebagai Partner Country INNOPROM 2026," tambah Agus.

Sebagai Partner Country, Indonesia akan menampilkan produk manufaktur unggulan, potensi investasi, dan peluang kemitraan di berbagai sektor prioritas, sekaligus mempromosikan Indonesia sebagai pusat manufaktur dan inovasi di kawasan. Kehadiran ini juga dimaksudkan untuk memperluas akses pasar nontradisional, khususnya ke Rusia dan negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS).

“INNOPROM menjadi platform strategis untuk memperluas akses pasar dan memperdalam kerja sama industri Indonesia dengan mitra internasional, khususnya Rusia dan kawasan Eurasia. Melalui forum ini, Indonesia dapat memperkenalkan kapabilitas industrinya sekaligus membuka peluang investasi dan kemitraan yang saling menguntungkan,” Sambung Agus.

Agus mengatakan sebagai bagian dari persiapan menuju INNOPROM 2026, Kementerian Perindustrian dengan dukungan KBRI Moskow telah menyelenggarakan Indonesia dan Russia Business Matching: Road to INNOPROM 2026 di Moskow. Kegiatan ini dimanfaatkan untuk mempercepat penyelesaian sejumlah nota kesepahaman strategis di bidang industri serta menyelaraskan agenda kerja sama antara pelaku industri Indonesia dan mitra Rusia.

Dalam kerangka penguatan kerja sama bilateral, Kemenperin Indonesia dan Kementerian Perindustrian & Perdagangan Federasi Rusia juga telah menyepakati sejumlah nota kesepahaman di sektor industri strategis, antara lain kerja sama galangan kapal, penelitian ilmiah terkait keamanan penggunaan krisotil, serta sektor industri lain yang masih dalam tahap finalisasi.

"Kesepakatan ini mencerminkan komitmen kedua negara dalam mendorong kolaborasi industri berbasis nilai tambah dan transfer teknologi," terang Agus.

Tidak hanya itu,dukungan terhadap partisipasi Indonesia juga datang dari Pemerintah Rusia melalui Kementerian Perindustrian dan penyelenggara INNOPROM, Formika Event, yang menyatakan komitmen memperkuat kerja sama industri yang saling menguntungkan, termasuk di bidang teknologi, energi, transportasi, dan digitalisasi industri.

Melalui INNOPROM 2026, Indonesia menegaskan posisinya sebagai negara industri yang tidak hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi juga mengedepankan nilai tambah, inovasi, dan solusi industri berkelanjutan untuk pasar global.

"Momentum ini menjadi panggung strategis bagi Indonesia untuk menegaskan daya saing, kapabilitas, dan komitmen industri nasional di mata dunia," pungkas Agus.