Periskop.id - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mengungkapkan kampanye negatif terhadap industri kelapa sawit masih menjadi tantangan yang dihadapi Indonesia. Berbagai informasi yang beredar, terutama di media sosial, dinilai kerap tidak disampaikan secara utuh sehingga membentuk persepsi negatif terhadap sektor sawit nasional.

Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, mengatakan salah satu isu yang sering berkembang adalah anggapan bahwa industri sawit menjadi penyebab utama deforestasi.

Padahal, menurut dia, pelaku industri telah menerapkan berbagai praktik keberlanjutan, termasuk menjaga kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati di sekitar area perkebunan.

"Masih terdapat kampanye negatif terkait sawit Indonesia. Ini merupakan tantangan kita," ucap Zaid dalam media briefing di Kalimantan Tengah, dikutip Jumat (31/7).

Zaid menjelaskan, informasi yang beredar sering kali tidak lengkap. Sebagai contoh, industri sawit telah berkomitmen menerapkan berbagai upaya pengelolaan lingkungan, termasuk program konservasi dan perlindungan biodiversitas. Namun, upaya tersebut belum banyak diketahui masyarakat.

"Informasi-informasi ini di dalam negeri dikembang-kembangkan seolah-olah menjadi informasi negatif," terang dia.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, BPDP mendorong kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, akademisi, lembaga riset, hingga pekebun sawit. Kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dan mitra internasional, juga terus diperkuat guna menyampaikan informasi yang lebih akurat mengenai industri sawit.

Menurut Zaid, peran media menjadi penting untuk menghadirkan informasi yang berimbang dan berbasis fakta kepada masyarakat.

"Jadi, bukan kita mengada-adakan bahwa sawit itu baik, tapi kita berikan informasi yang tepat dan benar," imbuhnya.

Pada saat kunjungan ke perkebunan kelapa sawit milik PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi (GSIP) dan PT Agro Menara Rachmat (AMR), anak usaha PT Astra Agro Lestari Tbk di Kalimantan Tengah, Perwakilan Manajemen PT GSIP-AMR, Denis Setyawan, mengatakan perusahaan menjalankan sejumlah program keberlanjutan untuk mendukung pengelolaan lingkungan di area perkebunan.

Salah satu program yang dijalankan adalah penyediaan kawasan konservasi di setiap unit usaha sebagai habitat satwa dan pelestarian keanekaragaman hayati.

"Jadi, untuk di Astra Agro Lestari sendiri ada beberapa program di dalamnya yang terkait dengan hal tersebut. Yang pertama kita ada konservasi. Di mana di konservasi itu kita akan belajar, kita akan tahu bahwa Astra itu kita juga melindungi," papar Denis.

Selain itu, perusahaan juga mengembangkan program methane capture atau penangkapan gas metana yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah cair kelapa sawit. Program tersebut dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang selama ini kerap menjadi sorotan dalam kampanye terhadap industri sawit.

Menurut Denis, limbah padat berupa tandan kosong telah dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sedangkan limbah cair diolah dan diaplikasikan kembali ke lahan perkebunan. Adapun gas metana yang muncul dari proses tersebut ditangkap melalui fasilitas methane capture agar tidak terlepas ke atmosfer.

"Tapi ada satu residu lagi yang mungkin kadang bisa jadi senjata orang untuk berkampanye, yaitu metana. Nah gas metana inilah yang kita capture, kita tangkap. Nah, ada di beberapa PT di Sumatera sudah mulai, nanti ke depannya akan berprogres ke pulau Kalimantan maupun Sulawesi, yaitu proyek methane capture," tutup Denis.