Periskop.id - Sebuah pesawat angkut berat militer Rusia, Antonov AN-22, jatuh hari ini di wilayah Ivanovo, sekitar 125 mil (sekitar 200 km) timur laut Moskow, menewaskan seluruh awak di dalamnya. Dilansir dari TWZ, insiden ini menjadi perhatian khusus lantaran pesawat era Soviet tersebut sebelumnya dilaporkan telah dipensiunkan secara luas sekitar 18 bulan lalu. Alasan pasti mengapa pesawat ini masih terbang belum jelas, namun kejadian ini memunculkan pertanyaan tentang kondisi keseluruhan armada angkut Angkatan Dirgantara Rusia.
Menurut Komite Investigasi Rusia, lembaga penyelidikan federal negara tersebut, pesawat angkut bermesin turboprop itu jatuh di dekat desa Ivankovo. Saksi mata melaporkan melihat Antonov AN-22 terpecah di udara, dengan bagian-bagian badan pesawat jatuh ke Waduk Uvodskoye. Sebuah video yang diunggah ke media sosial diduga memperlihatkan tim evakuasi tengah mengangkat puing-puing pesawat dari waduk.
Hingga kini, Komite Investigasi Rusia belum mengungkapkan jumlah orang di dalam pesawat. Namun, kantor berita milik Rusia, TASS, menyebut jumlah awak yang tewas sebanyak tujuh orang, sementara laporan media sosial yang belum terkonfirmasi bahkan menyebutkan nama masing-masing awak.
Kerusakan Teknis dan Upaya Mengaktifkan Kembali Pesawat Tua
Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi kepada media pemerintah bahwa pesawat Antonov AN-22 tersebut sedang menjalani penerbangan uji coba setelah perbaikan saat kecelakaan terjadi, yang mengindikasikan pesawat itu tengah dipersiapkan untuk kembali bertugas aktif. Kementerian Pertahanan Rusia juga mengonfirmasi bahwa tim pencarian telah dikerahkan ke lokasi jatuhnya pesawat dan penyelidikan resmi telah dibuka.
Mengutip sumber anonim, surat kabar bisnis Kommersant melaporkan bahwa kecelakaan ini kemungkinan besar disebabkan oleh kerusakan teknis.
Fakta bahwa Antonov AN-22—yang seharusnya dipensiunkan pada akhir tahun lalu—masih terbang, mencerminkan kondisi yang suram bagi armada angkut udara Rusia secara keseluruhan. Sebelumnya, pada Agustus tahun lalu, muncul laporan bahwa Rusia telah sepenuhnya menghentikan operasi armada Antonov AN-22. Unit terakhir, bernomor registrasi RF-09309 dibuat tahun 1974, bahkan direncanakan menjadi pajangan permanen di museum militer Verkhnyaya Pyshma, namun rencana tersebut kemungkinan berubah.
Profil Antonov AN-22
Fakta bahwa Antonov AN-22 bisa bertahan dan masih terbang hingga hari ini terbilang luar biasa, mengingat usianya yang sudah mencapai puluhan tahun.
Antonov AN-22 dirancang dan dibangun oleh perusahaan Antonov yang berbasis di Kyiv, dipimpin oleh Oleg Konstantinovich Antonov. Prototipe pertamanya terbang pada 27 Februari 1965, dan pada saat itu, langsung menjadi pesawat terberat di dunia.
Sebelum menciptakan pesawat ini, biro desain Antonov telah menghasilkan berbagai pesawat penting, seperti AN-8, AN-10, AN-12, dan AN-24.
Dari spesifikasi, Antonov AN-22 ditenagai oleh empat mesin turboprop Kuznetsov NK-12MA berukuran raksasa, masing-masing menghasilkan lebih dari 14.805 tenaga kuda, dilengkapi baling-baling kontra-rotasi delapan bilah.
Secara keseluruhan, 68 unit Antonov AN-22 dibuat antara tahun 1966 hingga 1976. Pesawat ini mampu membawa lebih dari sekitar 60 ton kargo. Alternatifnya, ruang kargonya dapat menampung 151 pasukan lintas udara atau 292 tentara reguler di dua dek. Ruang kargo utama tidak bertekanan, kecuali kabin depan yang memiliki kursi untuk 29 personel.
Antonov AN-22 sangat dihargai militer Soviet karena kemampuannya mengangkut muatan berukuran sangat besar, termasuk sistem rudal lengkap dan kendaraan militer berat, serta mampu beroperasi dari landasan udara sederhana.
Meskipun pesawat yang lebih baru seperti Antonov AN-124 dengan kapasitas muatan 136 ton telah masuk layanan, militer Rusia memilih mempertahankan sejumlah kecil AN-22 karena lebih murah dioperasikan dibanding An-124 dan memiliki ruang kargo yang jauh lebih besar daripada Ilyushin Il-76 Candid.
Sorotan Kondisi Armada Angkut Rusia yang Menua
Kecelakaan Antonov AN-22 ini menambah daftar insiden yang menunjukkan bahwa armada pesawat angkut Rusia menua dengan cepat, diperparah oleh kesulitan mendapatkan suku cadang. Upaya menghidupkan kembali produksi An-124 gagal, terutama karena mesinnya (D-18T) diproduksi dan dirawat di Zaporizhzhia, Ukraina.
Insiden ini bukan tragedi tunggal yang melibatkan pesawat tua. Pada Juli tahun ini, sebuah pesawat sipil Antonov An-24 buatan 1976 jatuh dekat Tynda, menewaskan seluruh 48 penumpang dan awak. Di bulan yang sama, dua orang tewas setelah AN-2—pesawat yang terbang perdana pada 1947—jatuh.
Armada pesawat Rusia secara umum juga kemungkinan besar terdampak sanksi internasional, terutama dalam hal tingkat kesiapan operasional. Dengan perang di Ukraina yang masih berlangsung dan kebutuhan angkut berat yang meningkat, insiden hari ini merupakan pukulan besar bagi Angkatan Dirgantara Rusia.
Tinggalkan Komentar
Komentar