periskop.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Washington membutuhkan perjanjian nuklir baru yang lebih kuat dan modern, menggantikan kesepakatan lama dengan Rusia yang baru saja berakhir. 

Pernyataan itu ia sampaikan melalui platform Truth Social pada Kamis (5/2), sehari setelah Traktat New START resmi kedaluwarsa. Berakhirnya perjanjian terakhir pengendalian senjata nuklir antara kedua negara memicu kekhawatiran akan lahirnya babak baru perlombaan senjata global.

Melansir Antara, Jumat (6/2) Trump sebelumnya menolak tawaran Moskow untuk memperpanjang traktat selama satu tahun. Menurutnya, kesepakatan yang berlaku sejak 2011 itu “dinegosiasikan secara buruk oleh AS” dan tidak lagi relevan dengan kebutuhan keamanan saat ini. 

“Ketimbang memperpanjang ‘NEW START’… kita seharusnya menugaskan para pakar nuklir untuk mengerjakan perjanjian baru yang lebih baik dan dimodernisasi, yang bisa bertahan lama di masa depan,” ungkap Trump.

Traktat New START, yang ditandatangani pada 2010 dan berlaku sejak 5 Februari 2011, membatasi masing-masing pihak untuk memiliki maksimal 1.550 hulu ledak nuklir terpasang, 800 peluncur (baik terpasang maupun cadangan), serta 700 wahana pengantar senjata nuklir seperti rudal balistik antarbenua dan pengebom berat. Kesepakatan ini dianggap sebagai tonggak penting dalam menjaga stabilitas strategis antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia.

Namun Trump menilai aturan tersebut sudah usang. Ia juga menegaskan bahwa China harus dilibatkan dalam perundingan nuklir berikutnya. Beijing menolak gagasan itu dengan alasan kapasitas nuklirnya jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia. 

Data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan, lebih dari 90% senjata nuklir dunia saat ini dimiliki oleh Washington dan Moskow, sementara China hanya memiliki sekitar 500 hulu ledak.

Pada 2021, pemerintahan Joe Biden sempat memperpanjang New START selama lima tahun hingga 4 Februari 2026. Namun kini, dengan berakhirnya masa berlaku, masa depan pengendalian senjata nuklir kembali dipertanyakan. Laporan Axios menyebutkan, pejabat AS dan Rusia hampir mencapai kesepakatan informal untuk tetap mematuhi batasan New START setidaknya enam bulan ke depan, meski tanpa payung hukum yang jelas.