Periskop.id - Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menahan dua kapal kargo komersial di Selat Hormuz, dengan alasan operasional tanpa izin dan dugaan keterkaitan dengan Israel.

IRGC mengidentifikasi kapal-kapal tersebut sebagai "MSC-Francesca" dan “Epaminondas”, yang beroperasi di bawah perusahaan pelayaran peti kemas MSC, menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, diktip Sabtu (25/4). 

Teheran menuduh kapal-kapal tersebut melanggar peraturan maritim, mengganggu sistem navigasi dan membahayakan kapal lain di jalur perairan tersebut. Pihak berwenang Iran mengatakan kapal-kapal itu diduga mencoba melewati Selat Hormuz tanpa terdeteksi sebelum dicegat dan dikawal ke perairan teritorial Iran.

Sejak perang yang diprakarsai oleh AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, Teheran telah mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. Langkah yang disusul blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran pada 13 April, telah menghantam pasokan energi global, terutama di seluruh Asia.

29 Serangan
Sekadar informasi, sebanyak 29 serangan terhadap kapal sipil terjadi di Teluk Persia dan Selat Hormuz, sejak ketegangan akibat konflik merebak di sekitar Iran dimulai. Hal ini diungkapkan Organisasi Maritim Internasional (IMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa, Jumat (24/4). 

“Sebanyak 29 serangan terhadap kapal di Teluk Persia dan sekitar Selat Hormuz telah diverifikasi oleh IMO sejak awal konflik,” tulis IMO dalam pernyataannya.

Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan, persediaan kapal yang terjebak, termasuk air, makanan, dan bahan bakar, berpotensi segera menipis. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada negara-negara di kawasan, atas dukungan mereka dalam menyediakan kebutuhan penting bagi para pelaut.

“IMO bekerja sama dengan negara-negara anggota dan mitra dalam menyusun rencana evakuasi bagi awak kapal, yang siap dilaksanakan ketika situasi memungkinkan. Ini mencakup penyusunan daftar kapal terdampak dan penentuan prioritas berdasarkan kebutuhan kemanusiaan,” bebernya, 

Pada awal April, IMO menyebutkan terdapat 21 serangan yang menyebabkan 10 orang tewas. Sejak saat itu, tidak ada laporan tambahan terkait korban jiwa. Namun, sekitar 20.000 pelaut di sekitar 1.600 kapal masih terjebak di kawasan Teluk.

Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap target di Iran pada 28 Februari, yang mengakibatkan lebih dari 3.000 korban jiwa.

Pada 8 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Putaran pertama perundingan yang kemudian digelar di Islamabad berakhir tanpa terobosan. Meski tidak ada laporan dimulainya kembali permusuhan, Amerika Serikat tetap memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.