Periskop.id - Iran telah mengizinkan kapal-kapal dari beberapa negara sahabatnya, termasuk Rusia, untuk melewati Selat Hormuz.
"Kami telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz," kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menurut saluran televisi satelit milik Lebanon, Al Mayadeen, dikutip Kamis (26/3).
Araghchi menambahkan, Teheran tidak punya alasan untuk mengizinkan "kapal-kapal musuh" melewati Selat Hormuz.
Seperti diketahui, pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika yang berada di Timur Tengah.
Eskalasi ketegangan di sekitar Iran telah menyebabkan blokade de facto terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Blokade itu juga berpengaruh terhadap tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut. Akibatnya, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara di dunia.
Dukungan Aliansi
Rabu (25/3), sejumlah sekutu Amerika Serikat (AS) dikabarkan mulai berpartisipasi dalam upaya penyelesaian krisis di Selat Hormuz. Meski begitu, Duta Besar AS untuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Matthew Whitaker, Washington mengharapkan dukungan yang lebih besar.
“Kami memiliki sekutu yang akhirnya mulai bergerak … Ada sekutu kunci yang berkontribusi dan menyediakan berbagai dukungan. Kami hanya menginginkan lebih banyak lagi,” ujar Whitaker kepada media penyiaran Fox Business.
Ia juga mengatakan, AS tengah bekerja secara intensif dalam jalur diplomatik untuk meyakinkan mitra di Eropa dan Timur Tengah agar turut terlibat. “Sayangnya, perlu upaya meyakinkan bahwa isu ini lebih penting bagi mereka dibandingkan bagi Amerika Serikat,” kata Whitaker.
Ia menambahkan, perkembangan Selat Hormuz yang krusial saat ini turut memengaruhi harga minyak global.
Pada 14 Maret, Presiden AS Donald Trump menyerukan kepada China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lainnya untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz guna menjaga keamanan pelayaran. Ia memperingatkan sekutu NATO, aliansi tersebut menghadapi “masa depan yang sangat buruk” jika gagal mengamankan selat itu.
Kala itu, Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan, negara-negara Uni Eropa belum siap mengirim armada ke kawasan tersebut.
Namun, Inggris akhirnya mengusulkan pelaksanaan sebuah konferensi tingkat tinggi (KTT,) untuk membahas keamanan pelayaran kapal melewati Selat Hormuz, menurut laporan Politico mengutip seorang pejabat.
Menurut laporan media tersebut, Selasa, London ingin memfasilitasi pembentukan sebuah koalisi untuk "membuka jalur pelayaran yang aman di Selat Hormuz dan memberikan jaminan tersebut kepada kapal dagang".
Perlu diketahui, hingga kini sudah 30 negara lebih, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, yang menandatangani pernyataan bersama terkait komitmen berkontribusi memastikan pelayaran kapal yang aman di Selat Hormuz di tengah konflik di kawasan Teluk. Laporan Politico menyebut KTT tersebut dapat dilaksanakan di London ataupun Portsmouth.
Tinggalkan Komentar
Komentar