Periskop.id - Israel dan Hizbullah sepakat memperbarui perjanjian gencatan senjata pada Jumat (19/6), setelah 24 jam eskalasi pertempuran yang menewaskan sedikitnya 47 orang di Lebanon. Ini menjadi konfrontasi paling sengit antara kedua pihak sejak gencatan senjata pertama kali diberlakukan.
Kerusuhan bermula ketika Hizbullah membunuh empat tentara Israel, memicu serangkaian serangan udara balasan ke Lebanon Selatan dan lembah Bekaa. Menjelang malam, bentrokan dilaporkan mereda dan gencatan senjata kembali ditegakkan.
"Jika Hizbullah tidak menyerang kami, maka bagi kami ini bukanlah masa perang," ujar seorang pejabat Israel pada Jumat (19/6) malam.
Sebelum situasi memanas, Hizbullah menargetkan pasukan Israel di dekat kota Nabatieh, Lebanon Selatan, dengan beberapa rentetan tembakan roket dan drone. Serangan itu terjadi semalam setelah penembakan sporadis Israel sepanjang Kamis.
Israel merespons dengan gelombang serangan udara ke Nabatieh dan sejumlah kota di sekitarnya, yang diklaim sebagai basis Hizbullah. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat serangan balasan tersebut menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai 33 lainnya.
Dampak keseluruhan dari 24 jam eskalasi itu jauh lebih besar. Berdasarkan laporan The Guardian, korban jiwa di seluruh wilayah yang terdampak mencapai sedikitnya 47 orang.
Pecahnya pertempuran juga berdampak pada agenda diplomatik. Pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di desa Obbürgen, Swiss, pada Jumat itu terpaksa dibatalkan menyusul tewasnya empat tentara Israel di tangan Hizbullah.
Pertemuan tersebut sedianya digelar dua hari setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang membuka jendela waktu 60 hari untuk merundingkan kesepakatan permanen soal program nuklir Iran, sekaligus memperlancar arus minyak melalui Selat Hormuz. MoU itu juga menyerukan penghentian permusuhan di semua lini, termasuk di Lebanon.
Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebelumnya telah mengingatkan semua pihak agar tidak melanggar perjanjian tersebut. Ia mengancam akan memberikan respons tegas kepada siapa pun yang berani mencederai kesepakatan.
Hizbullah sendiri dikenal memiliki kedekatan erat dengan Iran. Bentrokan terbaru ini menjadi ujian nyata bagi rapuhnya gencatan senjata yang tengah coba dipertahankan melalui jalur diplomasi multilateral.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar