Iklan
Internasional

El Nino Tahun Ini Diproyeksi Pecahkan Rekor Suhu Dunia

Anomali suhu di Pasifik sudah lampaui rekor 2015, sinyal El Nino tahun ini berpotensi jadi yang terkuat dalam seribu tahun terakhir.

El nino
Ilustrasi kekeringan akibat EL Nino. AI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Fenomena El Nino tahun ini diproyeksikan menjadi yang terkuat dalam kurun waktu 1.000 tahun terakhir. Pemanasan tambahan dari fenomena ini digabung dengan krisis iklim akibat aktivitas manusia diperkirakan mendorong 2027 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat.

Anomali suhu di Samudra Pasifik sudah melampaui rekor sebelumnya, padahal puncak El Nino diperkirakan baru terjadi beberapa bulan ke depan. Data terbaru menunjukkan anomali di kawasan itu mencapai 3,05 derajat Celsius di atas rata-rata acuan periode 1991-2020, melewati rekor 3,02 derajat Celsius yang tercatat pada akhir November 2015.

"Di banyak tempat di dunia, kita akan menyaksikan panas ekstrem yang belum pernah dialami sebelumnya, dengan segala konsekuensinya terhadap kesehatan, ketahanan pangan, dan tekanan terhadap ketersediaan air," kata Profesor Friederike Otto dari Imperial College London dalam wawancara dengan The Guardian, Rabu (23/9).

Selisih 3,05 derajat itu menggambarkan perbedaan suhu di wilayah pemantauan El Nino terhadap rata-rata acuannya, bukan kenaikan suhu rata-rata seluruh Bumi. Ukuran lain yang lazim dipakai ahli meteorologi, yakni Oceanic Nino Index (ONI) di wilayah Nino 3.4, tercatat hanya terpaut 0,01 derajat Celsius di bawah rekor 2015.

Indeks ONI menggunakan rata-rata acuan 30 tahun yang diperbarui berkala untuk memperhitungkan efek pemanasan global. Kedua pengukuran tersebut bersumber dari data Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA).

Ilmuwan iklim Zeke Hausfather menelaah 14 model iklim yang rata-rata memproyeksikan anomali suhu bakal mencapai sekitar 4 derajat Celsius pada November dan Desember mendatang. Sebagai pembanding, El Nino dengan anomali di atas 2 derajat Celsius saja sudah masuk kategori sangat kuat, yang kerap disebut "super El Nino".

Analisis Hausfather yang diterbitkan Carbon Brief itu menyebut proyeksi penguatan tersebut mencengangkan. Ia memaparkan, telaah terumbu karang, lingkaran pertumbuhan pohon, dan dokumen sejarah mengindikasikan belum pernah ada El Nino yang mencapai tingkat sekuat ini dalam satu milenium terakhir.

Penguatan El Nino ini disebut membawa ancaman khusus bagi Indonesia. Kondisi panas dan kering berpotensi memicu kebakaran yang memecahkan rekor serta polusi udara pada tingkat mematikan.

Dampak terhadap ketahanan pangan turut jadi sorotan di sejumlah wilayah lain. Hujan monsun yang krusial bagi sektor pertanian India diperkirakan berkurang, sementara kekeringan di Amerika Tengah dan Karibia berisiko menyebabkan gagal panen.

Program Pangan Dunia (WFP) sudah mengingatkan sejak Agustus bahwa dampak El Nino berpotensi mendorong sekitar 50 juta orang mengalami kelaparan akut. Kenaikan harga pangan juga diperkirakan menyertai fenomena ini.

Ancaman El Nino tidak melulu berupa kekeringan. Sejumlah kawasan seperti Peru dan Chile justru sudah merasakan dampak hujan lebat dan banjir.

Kawasan Tanduk Afrika rentan menghadapi peningkatan curah hujan ekstrem, sementara Australia dan Afrika bagian selatan diperkirakan menghadapi musim panas yang lebih panas dan kering. Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan sekaligus kekeringan di kedua kawasan tersebut.

Para ilmuwan mengkhawatirkan perubahan iklim dapat mengubah pola dampak El Nino yang selama ini sudah dikenal. Kondisi ini berpotensi membuat negara dan masyarakat lebih sulit mempersiapkan diri menghadapi konsekuensinya.

"El Nino datang dan pergi, tetapi selama kita terus membakar bahan bakar fosil, fenomena ini terjadi pada suhu dasar yang semakin panas, sehingga masyarakat jauh lebih sulit menghadapi konsekuensinya," ujar Otto.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai El-Nino, dan musim kemarau dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.