banner-sheroes-yoga
Nasional

Jateng Mulai Masuk Pancaroba, 23 Daerah Masih Awas Kekeringan

BMKG menyebut sebagian Jawa Tengah mulai beralih dari kemarau menuju masa transisi. Namun, 23 kabupaten/kota masih berstatus Awas kekeringan

Jateng Mulai Masuk Pancaroba, 23 Daerah Masih Awas Kekeringan
Peta peringatan dini kekeringan meteorologis di wilayah Provinsi Jawa Tengah pada Dasarian III atau periode 21-30 September 2026. dok. BMKG
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Sebagian wilayah Jawa Tengah mulai meninggalkan puncak musim kemarau dan bergerak menuju masa transisi atau pancaroba. Meski demikian, kondisi belum sepenuhnya basah karena 23 kabupaten/kota masih berada dalam status Awas kekeringan meteorologis pada Dasarian III September 2026.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto mengatakan perubahan mulai terlihat dari menurunnya tingkat peringatan kekeringan di sejumlah daerah yang sebelumnya berada pada kategori lebih tinggi.

"Benar, beberapa wilayah sudah melewati puncak musim kemarau. Saat ini meluruh menuju transisi musim," katanya, Selasa (22/9/2026).

Perubahan cukup terlihat jika dibandingkan awal September. Pada Dasarian I atau 1-10 September, BMKG masih mencatat 25 kabupaten/kota di Jawa Tengah berstatus Awas. Saat itu Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo hingga Kota Magelang masih termasuk daerah dengan tingkat peringatan tertinggi.

Memasuki Dasarian III atau periode 21-30 September, jumlah wilayah Awas berkurang menjadi 23. Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Grobogan, Kota Pekalongan, Kota Magelang, dan Kota Semarang kini masuk kategori Waspada.

23 Daerah Masih Berstatus Awas

Meski sejumlah wilayah menunjukkan perbaikan, sebagian besar Jawa Tengah masih membutuhkan kewaspadaan terhadap dampak kemarau. Wilayah yang masih berstatus Awas meliputi Kota Tegal serta Kabupaten Brebes, Cilacap, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Kebumen, Purworejo, Magelang, Demak, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Boyolali, Karanganyar, Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri.

Sementara itu, kategori Siaga berlaku di Kota Surakarta, Kota Salatiga, dan Kabupaten Semarang. Sedangkan kategori Waspada mencakup Kota Pekalongan, Kota Magelang, Kota Semarang, Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, dan Grobogan.

Status tersebut berkaitan dengan panjang hari tanpa hujan. BMKG sebelumnya menjelaskan kategori Waspada dapat diberikan ketika wilayah tidak mengalami hujan sedikitnya 21 hari berturut-turut, Siaga mulai 31 hari, sedangkan Awas merupakan kategori tertinggi ketika hari tanpa hujan telah mencapai minimal 61 hari.

Pada awal September, seluruh daerah yang masuk tiga kategori itu juga diprakirakan mengalami curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70%.

"Informasi peringatan dini tersebut dapat menjadi bahan kewaspadaan dan pertimbangan untuk melakukan langkah mitigasi dampak kekeringan," kata Goeroeh.

Puncak Kemarau Jateng Memang Diprediksi Agustus

Peralihan kondisi pada akhir September sejalan dengan prakiraan musim BMKG Jawa Tengah yang telah diterbitkan sejak Maret. Stasiun Klimatologi Jawa Tengah sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 secara umum terjadi pada Agustus. Beberapa wilayah mengalami puncak lebih awal pada Juli, sedangkan Kepulauan Karimunjawa diperkirakan baru mencapai puncaknya pada September.

Musim kemarau tahun ini umumnya dimulai pada Mei dan diprediksi berlangsung sekitar 5-7 bulan di sebagian besar wilayah Jawa Tengah. Bahkan, sebagian kecil Pati dan Rembang diperkirakan mengalami periode kemarau sepanjang 25-27 dasarian.

Artinya, berlalunya puncak kemarau tidak serta-merta membuat seluruh Jawa Tengah langsung memasuki musim hujan dalam waktu bersamaan. Pergantian musim berlangsung bertahap dan berbeda antarzona musim.

Kondisi itu terlihat dari Banyumas. Pada Dasarian I September, kabupaten tersebut masih masuk kategori Awas. Memasuki Dasarian III, statusnya turun menjadi Waspada, menjadi salah satu indikasi meluruhnya kondisi kering di Jawa Tengah bagian barat.

Transisi Belum Berarti Kemarau Berakhir

Secara nasional, kondisi atmosfer pada akhir September juga masih cukup kering.

Prakiraan BMKG untuk Dasarian III September menunjukkan 63,11% wilayah Indonesia masih diprediksi mengalami curah hujan rendah, yakni 0-50 milimeter per dasarian. Sementara 36,86% berada pada kategori menengah.

Dari sisi sifat hujan, BMKG memperkirakan sekitar 61,50% wilayah Indonesia mengalami hujan bawah normaldibanding rata-rata klimatologisnya. BMKG sebelumnya juga memperkirakan hujan kategori tinggi baru mulai meningkat secara bertahap pada Oktober-November 2026. 

Pada saat yang sama, fenomena El Niño diproyeksikan bertahan setidaknya hingga awal 2027 sehingga kondisi kering masih perlu diantisipasi, khususnya di daerah yang musim kemaraunya belum berakhir. Karena itu, istilah "transisi musim" tidak dapat diartikan bahwa kekeringan telah selesai atau musim hujan telah dimulai merata.

Waspada Cuaca Ekstrem Saat Pancaroba

Periode peralihan juga membawa risiko berbeda. Ketika atmosfer mulai lebih lembap tetapi pemanasan permukaan masih cukup kuat, peluang terbentuknya awan konvektif dapat meningkat secara lokal.

BMKG sebelumnya mengingatkan masa pancaroba dapat disertai hujan lebat dalam waktu singkat, petir, angin kencang hingga puting beliung, meski suatu wilayah belum resmi memasuki musim hujan. Prakiraan musim Jawa Tengah sebelumnya juga menempatkan akhir kemarau sebagai periode yang perlu diwaspadai karena perubahan cuaca dapat berlangsung cepat.

Di sisi lain, bagi daerah yang masih berstatus Awas dan Siaga, ancaman kekurangan air bersih, penurunan debit sumur dan embung, gangguan pertanian hingga kebakaran lahan belum sepenuhnya berakhir.

Pada awal September, Goeroeh mengingatkan lahan pertanian tadah hujan menjadi salah satu sektor yang paling rentan ketika kekeringan berlangsung panjang. Pemerintah daerah juga diminta menyiapkan distribusi air bersih bagi daerah yang mengalami krisis.

Perubahan status pada Dasarian III September dengan demikian menunjukkan sebagian Jawa Tengah mulai bergerak menuju akhir musim kemarau, tetapi kondisinya belum merata. BMKG meminta masyarakat tetap mengikuti peringatan dini terbaru karena wilayah berstatus Waspada, Siaga, dan Awas masih mencakup seluruh 35 kabupaten/kota di provinsi tersebut.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau, air bersih, dan cuaca ekstrem dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.