BMKG: Puncak Musim Hujan Diprediksi Bertahap hingga Februari 2027
BMKG memetakan waktu puncak musim hujan 2026/2027 yang berbeda di setiap wilayah, mulai Desember 2026 hingga Februari 2027.

Periskop.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan 2026/2027 tidak berlangsung serentak di seluruh Indonesia. Sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami curah hujan kategori normal, namun waktu puncaknya tersebar mulai akhir 2026 hingga awal 2027.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan, perbedaan waktu puncak hujan itu membuat masyarakat perlu memantau perkembangan musim di wilayah masing-masing. Menurutnya, informasi ini krusial bagi sektor pengelolaan air, pertanian, hingga kesiapan menghadapi bencana hidrometeorologi.
"Akumulasi curah hujan pada periode musim hujan di sebagian besar Indonesia atau 510 zona musim sama dengan 69,76% luas daratan Indonesia diprediksi berada pada kategori normal atau mendekati kondisi rata-rata klimatologisnya," kata Faisal dalam konferensi pers, Selasa (22/9).
Faisal merinci, puncak musim hujan akan berlangsung dalam tiga periode utama. Desember 2026 diproyeksikan menjadi puncak hujan di 155 zona musim, setara 36,94% luas daratan Indonesia.
Sementara itu, Januari 2027 mencakup 162 zona musim atau 25,68% luas daratan, dan Februari 2027 meliputi 190 zona musim atau 16,79% luas daratan Indonesia.
"Musim hujan juga menghadirkan peluang yang dapat dioptimalkan, seperti mendukung perluasan area tanam dan mengisi kembali kapasitas waduk serta bendungan yang surut akibat musim kemarau panjang," ujar Faisal.
Perbedaan waktu puncak hujan di setiap daerah, menurut Faisal, membuat kesiapan tiap wilayah perlu disesuaikan dengan karakter musimnya. Periode tersebut disebut jadi momentum penting untuk menambah pasokan air usai sejumlah wilayah melewati kemarau.
Di sisi lain, kenaikan curah hujan turut membawa risiko yang perlu diwaspadai. Faisal menyebut, puncak musim hujan membutuhkan kesiapan lebih tinggi karena potensi bencana hidrometeorologi basah ikut meningkat.
"Namun demikian, bersama datangnya musim hujan, risiko bencana hidrometeorologi basah juga meningkat," kata Faisal.
Informasi mengenai sifat dan puncak musim hujan, kata Faisal, bukan cuma gambaran cuaca semata. Data tersebut juga bisa dipakai sebagai dasar penentuan langkah antisipasi bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat sesuai karakter musim di wilayah masing-masing.
"Karena itu kami berharap informasi ini dapat diterjemahkan menjadi strategi adaptasi dan langkah antisipasi yang konkret, sehingga masyarakat dan para pemangku kepentingan tidak hanya lebih siap menghadapi risiko tapi juga mampu memanfaatkan peluang yang hadir seiring dinamika iklim yang akan terjadi," ujar Faisal.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dan musim kemarau dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.