periskop.id – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengungkapkan strategi pemerintah yang kini mulai memperluas cakupan hilirisasi ke sektor non-mineral, seperti pertanian, perkebunan, dan kelautan, demi mendongkrak penyerapan tenaga kerja secara masif.
“Dan betul sekali hilirisasi ini memang padat modal, tapi dari segi hilirisasi di bidang perkebunan, pertanian dan juga kelautan itu akan lebih kami dorong lagi,” kata Rosan dalam Rapat Kerja Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2).
Mantan Ketua Kadin ini menyadari karakteristik hilirisasi sektor pertambangan yang selama ini menjadi primadona memang memiliki nilai investasi jumbo. Namun, ia mengakui sektor tersebut cenderung padat modal dan teknologi, bukan padat karya.
Pemerintah kini mulai melirik potensi besar di sektor agraris yang memiliki daya ungkit lapangan kerja jauh lebih tinggi. Rosan menyebut dampak penciptaan kerja di sektor ini sangat signifikan bagi ekonomi kerakyatan.
“Karena itu memang efek dari penciptaan 80%-nya itu lebih banyak dan juga lebih signifikan,” jelasnya.
Rosan lantas memberikan perbandingan konkret antara investasi tambang dan pertanian. Ia mencontohkan sebuah proyek pengolahan kelapa yang nilai investasinya jauh lebih kecil dari smelter, namun dampak sosialnya luar biasa.
“Investasinya dibandingkan mineral itu memang berbeda jauh, hanya US$100 juta, tapi penyerapan tenaga kerjanya itu mencapai 10 ribu orang,” ujarnya.
Saat ini, proyek percontohan hilirisasi kelapa tersebut sudah mulai berjalan. Rosan memastikan pembangunan fisiknya tengah dikebut agar bisa segera beroperasi penuh dalam waktu dekat.
“Nah ini juga yang kita dorong dan investasinya baru masuk, sedang melakukan konstruksi yang di mana akhir tahun 2026 Insyaallah itu akan selesai investasi di bidang pengelolaan kelapa ini,” ungkap dia.
Selain perkebunan, sektor bahari juga menjadi fokus utama diversifikasi hilirisasi. Komoditas laut Indonesia dinilai memiliki nilai tambah tinggi jika diolah di dalam negeri sebelum diekspor.
“Kemudian di perikanan dan kelautan ini juga kita lihat akan meningkat, karena terutama di bidang ikan, garam, dan juga rumput laut,” tuturnya.
Data Kementerian Investasi menunjukkan tren positif arus modal ke sektor ini. Hilirisasi di bidang perkebunan dan kehutanan tercatat telah mencapai angka Rp144,5 triliun, sementara sektor perikanan dan kelautan menyentuh Rp6,4 triliun.
Rosan optimistis pergeseran fokus ini akan menyeimbangkan struktur ekonomi nasional.
“Alhamdulillah sekarang di tahun ini, di tahun 2025 dan tahun depannya kami melihat investasi yang non-mineral yang dari hilirisasi ini juga sudah mulai berjalan,” pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar