Periskop.id- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memiliki gedung Balai Budaya Condet yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang untuk menciptakan kesenian dan melestarikan tradisi.
Kepala Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Rinaldi menyampaikan ruang pertunjukan berperan penting untuk keberlanjutan suatu kota, khususnya bagi kiprah para seniman pujaan bangsa.
“Pengembangan kesenian di kota Jakarta ini sangat penting. Semoga Balai Budaya Condet dapat terus eksis menampilkan pertunjukan seni budaya yang ada di Jakarta, khususnya kebudayaan Betawi,” kata Rinaldi dalam keterangan di Jakarta, Minggu (26/4).
Balai Budaya Condet yang didirikan sekitar 1990. Dulunya bernama Laboratorium Tari dan Karawitan Condet. Gedung yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya itu, dilengkapi fasilitas pertunjukan untuk masyarakat dalam berkegiatan seni budaya. Kemudian, amfiteater dengan kapasitas 100 penonton, aula berukuran 10x9 meter, ruang tunggu pemain, dan toilet.
Gedung itu juga dapat dimanfaatkan oleh pihak lain untuk penyelenggaraan pertunjukan seni budaya melalui skema pemanfaatan aset Pemprov DKI. Syaratnya, tidak mengganggu penyelenggaraan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah, sesuai ketentuan yang berlaku.
Laboratorium Tari
Belum lama ini, gedung tersebut menjadi ruang pertunjukan disertasi penciptaan seni tari bertajuk “Ampu Empuan” dengan konsep Embodied Habitus: Penciptaan Tari Berbasis Peran Ganda Perempuan Betawi karya Lydia Devi Nurshanti, Mahasiswa Program Doktor (S3) Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Menurut Rinaldi, selain mengangkat budaya Betawi dan peran ganda perempuan Betawi, pertunjukan tersebut juga menegaskan kembali identitas Balai Budaya Condet sebagai tempat para seniman untuk berkarya dan berkreasi menciptakan kesenian dan pelestarian tradisi.
Sementara itu, Kepala Program Studi Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Octavianus Cahyono Prianto mengatakan, Balai Budaya Condet berperan penting sebagai laboratorium tari, terutama dalam pengenalan budaya daerah yang semakin tergerus.
“Keberadaan Balai Budaya Condet bisa menempatkan diri sebagai sentral budaya,” ujar Octavianus.
Lebih lanjut, dia mengatakan Balai Budaya Condet memiliki keunikannya sendiri, arena letaknya yang dekat dengan masyarakat. Dia pun mengaku terkesan dengan panggung dan akses masuk yang memudahkan masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan seni budaya.
“Tentu ke depan, Balai Budaya Condet harus dapat membangkitkan minat sebagian dari kolektif memori bagi masyarakat,” ungkap Octavianus.
Tinggalkan Komentar
Komentar