iklan periskop
Kesehatan

Dinkes DKI Intensifkan Pemantauan Kasus COVID-19 dan ISPA di Jakarta

Dinkes DKI memantau kasus COVID-19 dan ISPA melalui SKDR. Kasus ISPA masih terkendali meski sempat naik sejak Juli. Faskes siaga 24 jam, warga diimbau terapkan PHBS.

9 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Dinkes DKI Intensifkan Pemantauan Kasus COVID-19 dan ISPA di Jakarta
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (16/10). ANTARA/Lifia Mawaddah Putri
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta terus melakukan monitoring dan evaluasi (monev) untuk mengawasi perkembangan kasus COVID-19 serta Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di ibu kota. Kepala Dinkes DKI, Ani Ruspitawati, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari Sistem Kewaspadaan dan Respons Dini (SKDR).

“Kami pada prinsipnya punya SKDR, Sistem Kewaspadaan dan Respons Dini. Itu kita lakukan untuk penyakit-penyakit yang berpotensi menimbulkan wabah, termasuk COVID, ISPA, dan penyakit lainnya,” ujar Ani dilansir dari Antara, Kamis (16/10).

Menurut Ani, kasus ISPA di Jakarta masih dalam kondisi terkendali. Meski begitu, pihaknya tetap melakukan pemantauan ketat, terutama saat perubahan cuaca yang biasanya memicu kenaikan kasus. 

“Ketika iklim dan cuaca seperti sekarang, kasusnya biasanya agak naik, tapi sejauh ini tidak signifikan. Jadi masih dalam kendali,” jelasnya.

Ia menambahkan, seluruh fasilitas kesehatan di Jakarta telah disiagakan. Saat ini terdapat 292 puskesmas pembantu dan 44 puskesmas utama yang siap melayani masyarakat. 

“Di puskesmas kecamatan pun sudah 24 jam. Jadi ketika warga merasakan gejala, silakan berobat agar bisa dilakukan deteksi dini,” kata Ani.

Berdasarkan data Dinkes, sejak Januari hingga Oktober 2025 tercatat 1.966.308 kasus ISPA di Jakarta. Lonjakan mulai terlihat sejak Juli 2025, seiring perubahan cuaca. Ani mengingatkan gejala ISPA antara lain batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan demam, dengan gejala tambahan seperti hidung tersumbat, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, hingga suara serak.

Untuk pencegahan, Ani menekankan pentingnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS). “Masyarakat perlu mencuci tangan dengan sabun, menghindari kerumunan, memakai masker di ruang padat, serta menerapkan etika batuk dan bersin,” ujarnya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai kesehatan, covid-19, long covid, gejala long covid, dan ispa dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.