periskop.id - Pemerintah bakal membangun 10 kampus medis baru bekerja sama dengan universitas-universitas terkemuka di Inggris. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk mengurangi angka warga Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri.

Menteri Pendidikan, Riset, dan Teknologi Brian Yuliarto menjelaskan, inisiatif ini berasal dari arahan Presiden yang ingin menghadirkan Medical and Science University di tanah air. Dengan begitu, kekurangan dokter di Indonesia ini dapat terpenuhi melalui pembentukkan kampus kedokteran baru.

“Salah satu keinginan Bapak Presiden adalah menambah jumlah dokter. Itu yang kemudian mendorong pembentukan 10 kampus baru ini, yang fokusnya pada medis dan sains,” ujar Brian dalam rapat kerja bersama DPR di Kawasan Parlemen, Senayan, Selasa (3/2).

Menurut Brian, kampus-kampus baru ini akan dibangun tidak sekadar sebagai institusi pendidikan, tetapi juga akan dilengkapi dengan rumah sakit berstandar internasional. Model ini disebutnya mirip dengan pengembangan kampus teknik seperti ITB, ITERA, dan ITK pada masa lalu. 

“Kalau sekarang kita sudah punya kampus teknik, nanti konsepnya sama, tapi ini medical university. Harapannya, universitas dan rumah sakit yang berkelas internasional bisa mencegah warga Indonesia berobat ke luar negeri,” tambahnya.

Data pemerintah menunjukkan, setiap tahun warga Indonesia membelanjakan sekitar Rp160 triliun untuk berobat di luar negeri. Brian menilai, jika universitas dan rumah sakit berkualitas hadir di dalam negeri, khususnya di kota-kota seperti Medan, Riau, dan Kalimantan, warga dengan kemampuan ekonomi baik dapat mengakses layanan medis di dalam negeri, sementara model cross-subsidy dapat membantu mereka yang kurang mampu.

Selain itu, kampus medis ini akan dilahirkan melalui kerja sama bilateral, seperti Oxford membidani universitas tertentu di Indonesia. Brian menjelaskan, pemerintah juga tengah menyiapkan model manajemen kampus ala University of California, dengan satu universitas induk dan beberapa chapter di lokasi berbeda, sehingga tidak perlu banyak rektor. 

“Konsep ini untuk mempercepat proses pembentukan universitas dan rumah sakit yang berkualitas, sekaligus menambah jumlah dokter dengan cepat,” ujarnya.