periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menilai Indonesia masih menghadapi kekurangan tenaga medis, termasuk dokter dan dokter gigi. Kondisi tersebut mendorong pemerintah menyiapkan strategi penguatan pendidikan tinggi melalui pembangunan universitas berstandar internasional.

“Kami hanya menghasilkan sekitar 9.000 dokter setiap tahunnya. Jadi, entah berapa tahun lagi, dan pada saat kami mencapai 140 ribu dokter, semakin banyak dokter yang akan pensiun,” kata Prabowo dalam keterangan pers usai menghadiri UK–Indonesia Education Roundtable di London, Inggris, Selasa (20/1) waktu setempat. 

Menanggapi kondisi tersebut, Prabowo mengemukakan rencana pembangunan 10 universitas baru yang akan berfokus pada pendidikan kedokteran, kedokteran gigi, farmasi, serta sains dan teknologi. Pemerintah menargetkan universitas-universitas baru itu mulai menerima mahasiswa pada 2028.
“Dan pada awal tahun 2028, kita bisa memiliki kelompok pertama di Indonesia,” kata Prabowo.

Universitas-universitas tersebut direncanakan menerima lulusan terbaik dengan skema beasiswa penuh dari pemerintah. Indonesia juga terbuka bagi dosen dan profesor asing untuk mengajar guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Selain pembangunan kampus kesehatan, pemerintah membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi Inggris. Prabowo menyebut, kolaborasi pendidikan antara Indonesia dan Inggris telah berjalan di sejumlah universitas.

“Kita ingin mengajak kerja sama nanti. Mereka sudah banyak kerja sama dengan UI, Gadjah Mada, dengan banyak universitas. Mereka juga sudah punya kampus di kita, ada di Singosari, ada di Bandung, di bidang yang kita butuh, bidang digital, bidang teknologi,” katanya.