periskop.id - Virus Nipah kembali mewabah di India dan Bangladesh. Sementara itu, Tailan (Thailand) kini masuk dalam status risiko tinggi karena potensi penyebaran virus Nipah yang ditularkan oleh kelelawar buah. 

Tak hanya di dua negara tersebut, virus ini juga dilaporkan telah menyebar ke beberapa wilayah lain di Asia Tenggara sehingga masyarakat diminta lebih waspada terhadap potensi penularannya.

Virus Nipah (NiV) dikenal sebagai virus yang sangat berbahaya bagi manusia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), tingkat kematian akibat infeksi virus ini bisa mencapai 40-75%. 

Virus Nipah bisa menular ke manusia melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar pemakan buah atau babi, lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi dan juga bisa menyebar dari orang ke orang.

Penyebab Virus Nipah

Virus Nipah termasuk jenis infeksi zoonosis, yaitu penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia. Awalnya, virus ini berpindah dari kelelawar buah ke hewan ternak, seperti babi.

Namun, bukan hanya babi, hewan ternak atau peliharaan lain seperti kambing, kuda, anjing, hingga kucing juga berpotensi terinfeksi dan kemudian menularkan virus ke manusia.

Manusia yang Bisa Tertular Virus Nipah

  • Mengonsumsi hewan ternak yang terinfeksi atau produk dari hewan tersebut. 
  • Terpapar cairan tubuh hewan yang terinfeksi, misalnya darah, kotoran, atau air liur.
  • Penularan antarmanusia bisa terjadi lewat kontak langsung dengan cairan tubuh penderita, termasuk droplet dari batuk atau bersin, darah, urin, dan air liur.

Siapa yang Berisiko Tinggi?

Kelompok yang lebih berisiko tertular virus Nipah antara lain:

  • Orang yang mengonsumsi nira mentah, buah, atau makanan yang terkontaminasi virus Nipah.
  • Orang yang baru saja bepergian ke wilayah yang sedang mewabah.
  • Orang yang terpapar cairan tubuh hewan atau manusia yang terinfeksi.
  • Mereka yang bekerja dekat dengan hewan atau pasien terinfeksi, seperti tenaga medis atau pekerja di fasilitas kesehatan.
  • Pekerja yang sering berada di pohon tempat kelelawar buah bertengger, misalnya pohon nira, juga berisiko tinggi.

Risiko Virus Nipah bagi Indonesia

Para ahli penyakit menular mengingatkan bahwa Indonesia perlu tetap waspada terhadap potensi masuknya virus Nipah. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain:

1. Kehadiran Reservoir Alami

Kelelawar pemakan buah dari keluarga Pteropodidae merupakan inang alami virus Nipah. Spesies kelelawar ini tersebar luas di wilayah tropis, termasuk banyak daerah di Indonesia.

2. Mobilitas dan Perdagangan

Pergerakan manusia yang tinggi serta perdagangan hewan lintas negara dapat menjadi jalur masuk virus Nipah ke Indonesia.

3. Tantangan Deteksi Dini

Gejala awal infeksi virus Nipah, seperti demam, sakit kepala, dan muntah, mirip dengan penyakit biasa. Hal ini bisa membuat diagnosis terlambat dan meningkatkan risiko penularan lebih luas.

Gejala Virus Nipah yang Perlu Diketahui

Masa inkubasi virus Nipah, yaitu waktu dari paparan hingga gejala muncul, biasanya 4—14 hari. Pada tahap awal, gejalanya bisa mirip flu biasa, tetapi jika infeksi berkembang, virus ini dapat menyebabkan radang otak (ensefalitis) yang serius dan bahkan kematian.

Gejala Awal

Setelah masa inkubasi, gejala ringan bisa muncul dalam 3—14 hari pertama, antara lain:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Nyeri otot
  • Sesak napas
  • Diare
  • Muntah

Gejala Berat Akibat Radang Otak

Jika infeksi berkembang, gejala bisa semakin parah karena otak mengalami peradangan. Berikut adalah gejalanya:

  • Kantuk berlebihan
  • Bingung tentang waktu dan tempat (disorientasi)
  • Sulit berkonsentrasi
  • Kejang
  • Koma

Gejala radang otak ini bisa memburuk dalam 24—48 jam, dan pada sekitar 40—75% kasus parah, bisa berujung pada kematian.

Infeksi Laten

Beberapa orang yang terinfeksi virus Nipah mungkin mengalami gejala tertunda, bahkan beberapa bulan atau tahun setelah paparan pertama.

Penanganan dan Pencegahan

Saat ini belum ada obat atau vaksin khusus untuk virus Nipah. Penanganan fokus pada:

  • Mengatasi gejala
  • Mencegah dehidrasi
  • Memberikan istirahat cukup

Beberapa obat yang sedang diteliti sebagai opsi terapi termasuk: imunoterapi antibodi monoklonal, remdesivir, dan ribavirin.

Langkah Pencegahan yang Diperkuat di Indonesia

Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) telah meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Nipah dengan beberapa langkah berikut:

  • Memperketat pengawasan melalui surveilans sindromik di pintu masuk negara dan fasilitas kesehatan.
  • Menyosialisasikan pedoman pencegahan kepada dinas kesehatan di tingkat provinsi.
  • Mendorong masyarakat untuk menghindari kontak dengan kelelawar atau hewan liar lain, serta selalu mencuci buah sampai bersih sebelum dikonsumsi.

Meskipun ancaman virus Nipah belum terdeteksi di Indonesia, para ahli menekankan bahwa kewaspadaan dini, penelitian berkelanjutan terhadap keberadaan virus pada kelelawar lokal, dan kesiapan respons tetap menjadi langkah terbaik untuk menghadapi penyakit infeksi baru seperti virus Nipah.

Jika kamu pernah kontak dengan hewan atau orang yang dicurigai terinfeksi dan mengalami gejala seperti demam, batuk, nyeri otot, sakit kepala, atau lemas, segera periksakan diri ke dokter untuk penanganan yang tepat.