Periskop.id - Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa meminta pemerintah, untuk meluncurkan kampanye digital protokol kesehatan yang berfokus pada pencegahan penyakit zoonosis, seperti virus Nipah.

"Tantangan kesehatan ke depan banyak bersumber dari zoonosis (penularan dari hewan ke manusia), seperti virus Nipah. Pemerintah harus memanfaatkan platform digital secara masif untuk mengedukasi masyarakat tentang bagaimana protokol berinteraksi dengan hewan dan menjaga kebersihan pangan agar tidak terkontaminasi," ujar Neng Eem dikutip di Jakarta, Senin (2/2). 

Legislator asal Jawa Barat itu mengusulkan, agar kementerian terkait memproduksi konten edukasi kreatif yang mudah dipahami. Terutama mengenai cara mencuci buah dengan benar dan menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh hewan liar.

Kampanye itu diharapkan mampu menjangkau hingga ke pelosok daerah melalui media sosial dan jaringan komunikasi publik. "Protokol kesehatan harus berevolusi. Masyarakat perlu tahu bahwa menjaga kebersihan makanan, seperti mencuci buah yang mungkin terpapar air liur kelelawar adalah bagian dari pertahanan kesehatan nasional kita saat ini," tuturnya. 

Selain itu, Neng Eem menekankan pentingnya kolaborasi antara pakar kesehatan manusia dan pakar kesehatan hewan dalam menyusun narasi kampanye tersebut. Dengan demikian, menurutnya, informasi yang sampai ke masyarakat bisa bersifat akurat dan berbasis sains, namun tetap sederhana.

“Kita harus proaktif. Kampanye digital yang cerdas dan tepat sasaran akan membangun kewaspadaan publik tanpa memicu kepanikan. Tujuannya adalah membangun kemandirian masyarakat dalam menerapkan prokes secara sadar sebagai gaya hidup baru,” kata Neng Eem.

Melalui penguatan literasi digital itu, Neng Eem berharap mata rantai penularan penyakit zoonosis dapat diputus sejak di tingkat rumah tangga. Juga sekaligus mendukung upaya skrining ketat yang tengah dilakukan pemerintah di pintu-pintu masuk negara.

“Literasi masyarakat mengenai risiko penyakit zoonosis masih perlu ditingkatkan agar protokol kesehatan tidak hanya dipandang sebagai pencegahan antar-manusia, tetapi juga interaksi dengan lingkungan dan hewan,” imbuhnya.

Kelelawar Buah
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap virus nipah, meski hingga saat ini belum ada kasus penularannya di Indonesia.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes Murti Utami dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu, menjelaskan, penyakit virus nipah merupakan penyakit zoonotik yang memiliki inang pada kelelawar buah. Virus ini dapat menular melalui perantara hewan lain (seperti babi) melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus (misalnya buah atau nira).

"Hingga saat ini belum terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus nipah pada manusia di Indonesia, namun kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa," kata Murti.

Selain itu, Murti juga memaparkan hasil penelitian di Indonesia yang menunjukkan, adanya bukti serologis dan deteksi virus pada inang alami kelelawar buah (Pteropus sp.) yang menandakan potensi sumber penularan di Indonesia.

"Penularan antar manusia juga dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Manifestasi klinis bervariasi, mulai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan hingga berat, serta ensefalitis (peradangan) yang dapat berakibat kematian," ucapnya.

Migrasi Kelelawar
Sementara itu, Balai Karantina Kesehatan (BKK) Kelas II Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) menyebutkan, fenomena migrasi kelelawar dan burung dari berbagai negara, khususnya India, berpotensi menyebarkan virus Nipah di Indonesia.

"Penyakit Nipah harus diwaspadai, karena virus ini dapat menular ke manusia dengan tingkat kematian yang tinggi," kata Kepala BKK Kelas II Pangkalpinang Agus Syah di Pangkalpinang, Sabtu.

Ia mengatakan potensi masuknya virus Nipah melalui migrasi kelelawar dan burung dari berbagai negara ke Indonesia sangat besar. Apalagi saat ini, kata dia, kondisi cuaca di berbagai negara terjadi badai dingin ekstrem, sehingga burung dan kelelawar mencari daerah atau negara yang lebih hangat, termasuk ke Indonesia.

"Kemarin ada puluhan burung dari Rusia bermigrasi ke Jawa Timur dan ini menandakan burung-burung di berbagai negara yang mengalami badai dingin ekstrem sudah bermigrasi ke negara-negara yang kondisi alamnya lebih hangat," tuturnya. 

Menurut dia, dengan adanya migrasi burung, tidak menutup kemungkinan juga terjadi migrasi kelelawar dari berbagai negara yang tertular virus Nipah dan masuk ke hutan tropis Indonesia.

"Kelelawar di Indonesia banyak jenisnya dan ini bisa menjadi rumah bagi virus Nipah ini, karena sudah adanya migrasi burung-burung dari berbagai negara," serunya. 

Ia menambahkan, pada tahun 2025 suspek virus Nipah sudah ditemukan di Indonesia dan hasilnya negatif. Suspek virus Nipah ini ditemukan di tiga provinsi yaitu Riau, Kalimantan Barat (Kalbar), dan Sulawesi Utara (Sulut).

"Migrasi burung dan kelelawar ini cukup berpotensi, karena mereka terbang menggunakan kompas alam mencari wilayah-wilayah yang hangat untuk berkembang biak dan Indonesia merupakan wilayah khatulistiwa, merupakan negara hangat, dan mereka akan singgah serta berkembang di daerah ini," pungkasnya.