periskop.id - Gangguan kesehatan reproduksi seperti miom rahim dan kista ovarium masih kerap luput dari perhatian, padahal keduanya dapat memengaruhi kesuburan perempuan usia produktif jika tidak terdeteksi sejak dini. Minimnya gejala membuat banyak perempuan baru menyadari kondisinya ketika tengah merencanakan kehamilan atau mengalami gangguan menstruasi.

Dokter Spesialis Kandungan Eka Hospital BSD Tangerang Selatan, dr. Budi Santoso, mengatakan miom dan kista merupakan dua kondisi berbeda yang sering disalahpahami sebagai penyakit yang sama oleh masyarakat.

“Miom adalah pertumbuhan jaringan otot dan jaringan ikat di dinding rahim, sedangkan kista merupakan kantong berisi cairan yang umumnya terbentuk di ovarium,” ujar dr. Budi dikutip dari Antara, rabu (28/1).

Ia menjelaskan, miom rahim umumnya bersifat jinak dan dalam banyak kasus tidak menimbulkan keluhan berarti. Namun, pada kondisi tertentu, miom dapat berdampak pada kualitas hidup dan berpotensi memicu gangguan selama kehamilan.

“Miom jarang menjadi penyebab langsung infertilitas, tetapi jika ukurannya besar atau lokasinya tertentu, dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan seperti gangguan pertumbuhan janin hingga kelahiran prematur,” kata dia.

Sementara itu, kista ovarium lebih sering berkaitan langsung dengan gangguan kesuburan, terutama jika berhubungan dengan sindrom ovarium polikistik (PCOS) atau endometriosis.

“Kista yang terkait PCOS dapat mengganggu proses pematangan sel telur sehingga menurunkan peluang kehamilan,” ujarnya.

Dr. Budi menambahkan, sebagian besar kista ovarium bersifat ringan dan dapat menghilang dengan sendirinya sebagai bagian dari proses ovulasi. Namun, kista dengan karakteristik tertentu memerlukan pemantauan dan penanganan khusus.

Dari sisi faktor risiko, miom kerap dikaitkan dengan ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron, obesitas, riwayat keluarga, menstruasi dini, serta belum pernah melahirkan. Adapun kista ovarium dapat dipicu oleh ovulasi normal, pembelahan sel abnormal, endometriosis, PCOS, hingga infeksi organ reproduksi.

Karena sering berkembang tanpa gejala jelas, dr. Budi menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala, terutama bagi perempuan usia produktif yang merencanakan kehamilan.

“Pemeriksaan panggul dan USG sebaiknya dilakukan secara rutin. Jangan menunggu keluhan berat muncul,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa tindakan operasi tidak selalu menjadi pilihan utama. Dalam banyak kasus, dokter akan melakukan observasi berkala selama kondisi tidak menimbulkan gangguan serius.

Secara nasional, gangguan miom dan kista ovarium tergolong cukup luas. Sejumlah kajian menunjukkan miom rahim diperkirakan dialami sekitar 20%–30% perempuan usia reproduktif, sementara kista ovarium dapat ditemukan pada sebagian besar perempuan pada fase tertentu dalam hidupnya. Kondisi yang kerap tidak bergejala ini membuat deteksi dini menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan reproduksi dan peluang kehamilan perempuan.