periskop.id - Singapura mengambil langkah tegas menghadapi ancaman virus Nipah (NiV) yang kembali mencuat di India. Badan Pengendalian Penyakit Menular (CDA) menyatakan akan memberlakukan pemeriksaan suhu tubuh di bandara bagi penerbangan dari wilayah terdampak, khususnya Benggala Barat.

“Kami akan menerapkan pemeriksaan suhu tubuh di bandara untuk penerbangan yang tiba dari daerah terdampak,” ujar CDA melansir Antara, Kamis (29/1).

Selain itu, Kementerian Tenaga Kerja (MOM) meningkatkan pengawasan terhadap pekerja migran yang baru tiba dari Asia Selatan. MOM juga berkoordinasi dengan penyedia layanan kesehatan primer untuk memperkuat kewaspadaan. CDA menegaskan, langkah tambahan tidak tertutup kemungkinan bila risiko epidemiologis meningkat.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India membantah laporan adanya lima kasus Nipah di Benggala Barat. Pemerintah India menegaskan hanya dua kasus yang dikonfirmasi. Meski demikian, catatan sejarah menunjukkan India telah menghadapi tujuh wabah Nipah sejak 2001, dengan tingkat kematian yang tinggi pada beberapa kasus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Nipah sebagai salah satu virus paling berbahaya di dunia. Hingga kini belum ada obat maupun vaksin yang tersedia. Virus ini terutama menyebar melalui kelelawar buah, dan manusia bisa terinfeksi lewat konsumsi buah yang terkontaminasi air liur hewan. Hewan peliharaan juga berpotensi menjadi perantara penularan.

Penelitian menunjukkan tingkat fatalitas Nipah dapat mencapai 40%–75%, jauh lebih tinggi dibandingkan influenza musiman. Wabah sebelumnya di Kerala, India (2018), menewaskan 17 dari 19 orang yang terinfeksi. Kondisi ini membuat banyak negara di Asia Tenggara memperketat pintu masuk, termasuk Malaysia yang meningkatkan skrining di bandara internasional.