periskop.id – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan keprihatinannya terhadap layanan transplantasi sumsum tulang (bone marrow transplant) di Indonesia yang dinilai masih sangat terbatas. Ia menyebut kapasitas medis dalam negeri untuk menangani kasus kanker darah pada pasien dewasa hanya berkisar lima tindakan dalam satu tahun.
“Untuk kanker darah, kita melakukan bone marrow transplant di Rumah Sakit Karyadi hanya sekitar lima kasus per tahun,” ujar Budi saat ditemui di South Quarter Dome, Jakarta, Rabu (4/2).
Capaian ini dinilai sangat tertinggal jika disandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan regional. Budi memaparkan data perbandingan di mana Bangladesh mampu melakukan sekitar 17 transplantasi per tahun, sedangkan Vietnam, Thailand, dan Malaysia sudah mencapai angka ratusan kasus.
Ketertinggalan teknologi dan kapasitas medis ini menjadi tamparan keras bagi dunia kesehatan nasional. Pemerintah merasa perlu mengejar defisit pelayanan tersebut agar setara dengan negara lain.
“Sebagai negara besar, saya malu. Kita kalah jauh dari negara-negara tersebut dalam layanan terapi kanker darah yang paling lanjut,” katanya.
Padahal, transplantasi sumsum tulang merupakan prosedur vital dalam skema pengobatan kanker darah. Metode ini sering menjadi harapan hidup utama bagi penderita leukemia dan limfoma yang membutuhkan penanganan medis tingkat lanjut.
Minimnya fasilitas mumpuni membuat banyak pasien domestik terpaksa mencari pengobatan ke luar negeri. Ribuan warga negara Indonesia rela merogoh kocek dalam demi mendapatkan layanan kesehatan yang memadai di negeri orang.
“Seribuan orang Indonesia bisa membayar untuk menjalani transplantasi di Thailand dan Malaysia. Tapi ketika ditanya kenapa tidak dilakukan di dalam negeri, jawabannya selalu mahal,” ujarnya.
Data Asia-Pacific Blood and Marrow Transplantation Group (APBMT) turut memperkuat pernyataan Menkes tersebut. Laporan organisasi ini menempatkan Indonesia pada posisi buncit dalam aktivitas transplantasi sumsum tulang di kawasan Asia.
Secara statistik, rasio tindakan medis ini di Tanah Air tercatat sangat rendah. Indonesia melakukan kurang dari satu transplantasi per 10 juta penduduk, angka yang jauh di bawah rata-rata negara berkembang lain di Asia.
Kesenjangan ini mencerminkan belum optimalnya pengembangan layanan terapi kanker darah di dalam negeri. Pemerintah kini dituntut bekerja ekstra keras untuk memperbaiki infrastruktur dan aksesibilitas layanan kesehatan bagi masyarakat luas.
Tinggalkan Komentar
Komentar