periskop.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menuai kritik. Sejumlah menu yang beredar justru didominasi makanan ultra proses, tinggi natrium, namun miskin nilai gizi. Alih-alih memperbaiki status gizi anak, pola konsumsi semacam ini dinilai berpotensi memperpanjang masalah kesehatan sejak usia dini.

Dokter gizi Tan Shot Yen menyampaikan kecurigaannya bahwa persoalan gizi perlahan akan dikeluarkan dari kewenangan Kementerian Kesehatan. Ia menilai ada sinyal pelemahan peran negara dalam mengawal kebijakan gizi berbasis kesehatan.

“Saya punya kecurigaan, pemerintah saat ini akan mengeluarkan urusan gizi dari Kementerian Kesehatan. Sekarang saja sudah tidak ada lagi Direktorat Gizi di Kemenkes,” ujar Tan dalam diskusi Moratorium MBG: Memang Mungkin? di Cikini, Jakarta, Jumat (6/2).

Tan mencontohkan pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) yang selama ini menjadi rujukan nasional. Dalam panduan tersebut, ASI tetap menjadi komponen utama hingga usia dua tahun, dengan proporsi sekitar 70% pada usia 6–8 bulan dan masih 30% di usia 23 bulan. Namun, ia menilai praktik MBG justru melenceng jauh dari prinsip dasar tersebut.

“Anak dua tahun malah diberi bubur instan, susu formula, sampai roti olahan. Ini seperti bercanda,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa panduan gizi sebenarnya sudah berulang kali disampaikan kepada pelaksana program. Bahkan, menurut Tan, Kementerian Kesehatan telah dua kali melayangkan surat resmi yang mempertanyakan dominasi produk ultra proses dalam menu MBG karena dinilai bertabrakan dengan prinsip PMBA.

Tan menilai tanggung jawab pengelolaan gizi kini tidak memiliki acuan yang jelas.

“Saya agak curiga urusan gizi Kemenkes akan cuci tangan, bersih-bersih, dan dilempar semua kepada BGN atau Kementerian Ketahanan Pangan,” ujarnya.

Tan mengingatkan, sejak era posyandu hingga program pangan lokal, prinsip gizi selalu menekankan makanan segar, padat gizi, dan minim gula, garam, serta pangan olahan. Ironisnya, menu yang kini beredar justru didominasi oleh jenis makanan yang selama ini dianjurkan untuk dihindari. 

“Yang keluar malah semua yang dilarang. Seolah-olah ini dinyanyikan ulang,” tutup Tan.