Periskop.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan pujian kepada Indonesia atas keberhasilannya dalam mengintegrasikan layanan HIV, hepatitis viral, dan infeksi menular seksual (IMS) ke dalam sistem Pelayanan Kesehatan Primer (PHC). 

Pujian ini diberikan dalam laporan “Integrating HIV, Viral Hepatitis and Sexually Transmitted Infections with Primary Health Care Learning from Countries” yang dirilis pada 2025.

Indonesia, bersama dengan Ethiopia, Rwanda, dan Zambia, diakui oleh WHO atas usaha mereka yang berhasil mengintegrasikan layanan kesehatan tersebut. 

Integrasi ini dilakukan dengan fokus pada beberapa tuas strategis dan operasional PHC yang bekerja secara bersamaan, dan menjadi langkah penting dalam meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan di negara-negara tersebut.

Integrasi Layanan Kesehatan untuk Meningkatkan Akses

Dengan tantangan kesehatan global yang semakin kompleks, integrasi layanan kesehatan menjadi sebuah strategi penting untuk meningkatkan penyampaian layanan dan hasil kesehatan secara menyeluruh. 

Mengintegrasikan layanan untuk HIV, hepatitis viral, tuberkulosis (TB), IMS, penyakit tidak menular, serta kesehatan mental ke dalam sistem PHC sangat penting untuk menciptakan cakupan kesehatan universal yang lebih inklusif.

Pendekatan PHC yang berfokus pada pelayanan kesehatan yang komprehensif dan berpusat pada manusia memungkinkan penggunaan sumber daya yang efisien dan mengatasi berbagai masalah kesehatan dengan cara yang lebih terkoordinasi dan holistik. 

Dengan mengintegrasikan berbagai layanan penyakit, sistem kesehatan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan meningkatkan efisiensi operasionalnya.

Studi kasus dari Ethiopia, Indonesia, Rwanda, dan Zambia memberikan wawasan yang sangat berharga mengenai bagaimana pengendalian penyakit dan integrasi dalam PHC dapat dijalankan dengan sukses, meskipun tantangan di masing-masing negara berbeda. 

Keempat negara ini menunjukkan pentingnya strategi integrasi untuk mencapai hasil kesehatan yang lebih baik dan mengatasi masalah kesehatan global.

Kekuatan Unik dan Praktik Terbaik dari Negara-negara yang Diakui

Melanjutkan pembahasan mengenai keberhasilan negara-negara ini, mari kita lihat lebih mendalam tentang pendekatan dan praktik terbaik yang mereka terapkan dalam mengintegrasikan layanan kesehatan ke dalam sistem PHC mereka.

Ethiopia

Ethiopia telah berhasil mengintegrasikan layanan HIV, hepatitis, TB, dan IMS melalui sistem PHC yang terdesentralisasi. 

Program-program seperti Program Ekstensi Kesehatan dan asuransi kesehatan berbasis komunitas telah memperkuat keterlibatan komunitas dan penyampaian layanan. Kemajuan ini didorong oleh komitmen politik yang kuat dan tata kelola yang terkoordinasi.

Indonesia

Sebagai negara dengan populasi yang sangat besar dan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengintegrasikan layanan kesehatan. 

Namun, Indonesia menonjol dalam hal integrasi layanan kesehatan HIV, hepatitis, TB, dan IMS ke dalam PHC dengan fokus pada penyampaian layanan yang terdesentralisasi dan keterlibatan komunitas. 

Melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Indonesia telah memperluas akses ke layanan kesehatan, termasuk pengobatan HIV dan hepatitis. Meski demikian, tantangan geografis dan prioritas regional yang bervariasi menjadi hambatan utama dalam implementasi yang lebih luas.

Rwanda

Rwanda telah berhasil mengintegrasikan layanan hepatitis C ke dalam PHC dengan pendekatan yang mencakup skrining massal, pengobatan terdesentralisasi, dan pembagian tugas yang jelas. 

Hasil positif dari integrasi ini termasuk penemuan kasus yang lebih cepat dan pengobatan yang lebih efisien.

Zambia

Zambia menunjukkan komitmennya dalam mengintegrasikan layanan HIV dan penyakit tidak menular melalui PHC. 

Pendekatan yang melibatkan pembagian tugas, keterlibatan komunitas, dan kolaborasi dengan mitra pembangunan telah meningkatkan akses ke perawatan komprehensif dan deteksi dini infeksi koinfeksi. 

Meski demikian, Zambia masih menghadapi tantangan terkait keterbatasan sumber daya dan koordinasi.

Integrasi Layanan Kesehatan di Indonesia

Melanjutkan kisah sukses integrasi layanan di berbagai negara, Indonesia juga berkomitmen untuk mengatasi epidemi HIV dengan pendekatan yang lebih holistik. 

Pada tahun 2023, Indonesia menghadapi 570.000 orang hidup dengan HIV, dan meskipun jumlah infeksi baru menurun selama 12 tahun terakhir, kelompok populasi kunci seperti pria yang berhubungan seks dengan pria masih mengalami infeksi baru yang terus menerus.

Sebagai respons terhadap tantangan ini, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi infeksi baru dan kematian terkait AIDS pada 2026 melalui berbagai target kesehatan nasional yang ambisius. Ini termasuk peningkatan uji HIV, perluasan cakupan terapi antiretroviral, serta penurunan viral load di kalangan orang yang hidup dengan HIV. 

Mengintegrasikan layanan HIV, hepatitis, TB, dan IMS ke dalam PHC adalah langkah penting dalam meningkatkan hasil kesehatan dan mencapai cakupan kesehatan universal, khususnya di negara dengan lebih dari 17.000 pulau.

Namun, beberapa hambatan tetap ada, terutama akibat pembekuan pendanaan dari Pemerintah Amerika Serikat yang berdampak pada berbagai program yang dipimpin komunitas, seperti yang dibiayai oleh USAID. Pemotongan dana juga menghentikan ekspansi program PrEP dan uji coba PrEP HIV jangka panjang.

Tantangan dan Hambatan yang Dihadapi

Melanjutkan ulasan mengenai tantangan yang ada, meskipun telah ada kemajuan yang signifikan, Indonesia masih menghadapi beberapa hambatan utama dalam mengintegrasikan layanan kesehatan:

  • Alokasi sumber daya dan pendanaan yang tidak merata di tingkat daerah, dengan beberapa distrik kekurangan dana yang memadai untuk layanan kesehatan.
  • Kapasitas tenaga kerja yang terbatas, terutama di daerah pedesaan, menjadi tantangan bagi penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas.
  • Stigma dan diskriminasi terhadap kelompok populasi kunci seperti pria gay, pekerja seks, dan pengguna narkoba suntik, yang masih menghambat akses mereka ke layanan kesehatan.

Rekomendasi untuk Negara Lain

Berdasarkan pengalaman Indonesia, beberapa negara dapat mempertimbangkan langkah-langkah berikut untuk mengintegrasikan layanan HIV, hepatitis, TB, dan IMS ke dalam sistem PHC mereka:

  • Perkuat koordinasi dan tata kelola antar sektor di berbagai level untuk mendukung implementasi program integrasi.
  • Tingkatkan investasi dalam tenaga kesehatan untuk menjaga kualitas pelayanan, khususnya di daerah pedesaan.
  • Perbaiki sistem logistik untuk memastikan ketersediaan obat dan peralatan medis yang cukup.
  • Melawan stigma dan diskriminasi melalui program pendidikan yang terarah di fasilitas kesehatan.
  • Promosikan kemitraan publik-swasta untuk meningkatkan kualitas perawatan dan memperluas cakupan layanan.