periskop.id - Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara DJPPR Kementerian Keuangan Tony Prianto menilai pelemahan nilai tukar rupiah justru membuka peluang besar bagi eksportir nasional. Kondisi geopolitik global saat ini bisa dimanfaatkan pengusaha memperluas jangkauan ke negara non-tradisional.
"Memang intinya kalau dari pemerintah, kita melihat ya just in time aja sih, sebetulnya justru ada PKE ini, support kepada pelaku usaha ekspor untuk negara-negara non-tradisional, itu kalau sekarang sudah terjadi perang, kemudian geopolitik juga shifting, itu justru memberikan peluang bagi pengusaha saya yakin sih ya," katanya dalam acara media briefing di Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4).
Pelemahan mata uang garuda memang membawa dampak ganda bagi para pelaku usaha ekspor. Kondisi ini otomatis menaikkan daya saing harga produk buatan Indonesia di mata pembeli internasional.
Barang-barang komoditas ekspor nasional menjadi terasa lebih murah di pasar global. Namun, dinamika perekonomian ini tetap memunculkan tantangan berat tersendiri.
Kenaikan biaya bahan baku impor kini menjadi masalah utama para pengusaha. Sebagian industri dalam negeri masih sangat bergantung pada pasokan material dari luar negeri.
Beban biaya produksi berpotensi makin membengkak setiap harinya. Hal ini tentu bisa menekan margin keuntungan usaha jika pengusaha tidak menyiapkan langkah antisipasi matang.
Merespons tantangan tersebut, pemerintah tidak tinggal diam melihat kesulitan industri. Dukungan penuh disalurkan melalui program Penugasan Khusus Ekspor (PKE).
Program strategis ini dijalankan langsung oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). PKE dirancang khusus membantu para eksportir menembus pasar baru negara-negara non-tradisional.
Fasilitas dukungan dari pemerintah ini mencakup banyak aspek vital operasional. Bantuan ini menjangkau pembiayaan modal kerja, penjaminan kelayakan, hingga skema mitigasi risiko bisnis.
Tony memastikan program ini menyasar pemain baru maupun pemain lama di sektor ekspor. Semua langkah ini disiapkan untuk menjaga stabilitas neraca perdagangan.
"Jadi kalau kami melihatnya yaitu disrupsi itu harusnya kita lihat sebagai sebuah hal yang positif bagi kita, bagi eksporter kita dan diharapkan di dunia tetap bisa kita leverage ya situasi ini dengan justru meningkatkan jumlah ekspor ya dan mungkin tumbuhnya baru," tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar