periskop.id - Dolar Amerika Serikat memulai perdagangan awal tahun dengan posisi melemah pada Jumat (2/1), setelah sepanjang tahun lalu tertekan terhadap sebagian besar mata uang utama dunia. 

Sementara itu, yen Jepang bergerak stabil di dekat level terendah 10 bulan karena pelaku pasar masih menanti rilis data ekonomi bulan ini untuk membaca arah kebijakan suku bunga ke depan.

Melansir Reuters, menyempitnya selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan sejumlah negara lain memberikan tekanan signifikan terhadap dolar. Kondisi tersebut mendorong mayoritas mata uang global menguat tajam sepanjang 2025, dengan pengecualian yen Jepang.

Euro tercatat stabil di level US$1,1752 pada awal perdagangan Asia, setelah melonjak 13,5% sepanjang 2025. Pound sterling juga bertahan di kisaran US$1,3474 usai menguat 7,7% tahun lalu. Penguatan euro dan poundsterling tersebut menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak 2017.

Di sisi lain, yen Jepang berada di level 156,74 per dolar AS. Sepanjang 2025, mata uang Jepang itu hanya menguat kurang dari 1% terhadap dolar dan sempat menyentuh level terendah 10 bulan di 157,90 pada November lalu, yang memicu kekhawatiran potensi intervensi pemerintah Jepang.

Peringatan verbal yang disampaikan otoritas Tokyo sepanjang Desember berhasil mendorong yen menjauh dari zona intervensi. Meski demikian, kekhawatiran pasar terhadap langkah intervensi masih tetap membayangi.

Dengan pasar Jepang dan China yang tutup, volume perdagangan diperkirakan relatif tipis dan pergerakan harga cenderung terbatas selama sesi Asia.

Kepala Strategi Investasi Pinnacle Investment Management Anthony Doyle menilai perekonomian global memasuki tahun 2026 dengan momentum yang cukup solid dan risiko resesi yang masih rendah.

"Di luar Amerika Serikat, dorongan penurunan suku bunga bank sentral mulai mereda. Ini bukan kelemahan, melainkan ciri pasar yang lebih stabil. Berkurangnya kejutan suku bunga mengurangi pergerakan satu arah dan meningkatkan pentingnya seleksi wilayah, faktor, serta kelas aset,” ujarnya.

Ia menerangkan bahwa indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, berada di level 98,243. 

Sepanjang 2025, indeks tersebut katanya mencatat penurunan 9,4% penurunan tahunan terbesar dalam delapan tahun terakhir, seiring pemangkasan suku bunga, ketidakpastian kebijakan perdagangan, serta kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada rilis data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk laporan penggajian dan tingkat pengangguran yang dijadwalkan pekan depan. Data tersebut dinilai akan memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja serta arah tingkat pengangguran sepanjang tahun ini.

Selain itu, pasar juga mencermati keputusan Presiden AS Donald Trump terkait penunjukan Ketua Federal Reserve berikutnya, mengingat masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Mei mendatang. 

Investor memperkirakan Trump akan memilih sosok yang lebih dovish atau cenderung mendukung pemangkasan suku bunga, sejalan dengan kritik Trump terhadap The Fed dan Powell tahun lalu.

Lebih lanjut, pelaku pasar saat ini memperkirakan akan terjadi dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang 2026, lebih agresif dibandingkan proyeksi The Fed yang masih memperkirakan satu kali pemangkasan di tengah perbedaan pandangan internal.