periskop.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang signifikan sepanjang 2025, namun memberikan catatan kritis terkait belum meratanya kualitas kenaikan yang terlihat dari lesunya performa saham-saham berkapitalisasi besar.

"Sepanjang 2025, Indeks LQ45 hanya mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,41%, jauh tertinggal dibandingkan laju penguatan IHSG, yang mencerminkan belum meratanya kualitas kenaikan di pasar saham," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam pembukaan perdagangan saham tahun 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (2/1).

Mahendra memaparkan data penutupan IHSG pada akhir 2025 yang bertengger di level 8.646,94. Angka ini menunjukkan lonjakan impresif sebesar 22,13% secara tahunan (year-on-year).

Sebaliknya, pergerakan Indeks LQ45 justru berjalan lambat. Padahal, indeks ini berisi saham-saham blue chip yang menjadi acuan utama para manajer investasi global maupun domestik dalam menempatkan dana jumbo.

Di sisi makro, OJK mengapresiasi kontribusi pasar modal terhadap perekonomian nasional yang kian menguat. Rasio kapitalisasi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) melonjak tajam dari 56% di tahun 2024 menjadi 72% pada akhir 2025.

Kendati trennya positif, Mahendra mengingatkan posisi Indonesia masih tertinggal dibanding negara tetangga. Potensi pengembangan pasar domestik dinilai masih sangat terbuka lebar.

Sebagai pembanding, rasio kapitalisasi pasar terhadap PDB di India telah mencapai 140%. Sementara itu, Thailand mencatatkan angka 101% dan Malaysia berada di level 97%.

Sorotan lain tertuju pada perubahan struktur pelaku pasar. Otoritas mendeteksi lonjakan partisipasi investor ritel yang kini menguasai porsi transaksi harian di bursa.

Porsi transaksi investor perorangan ini naik drastis dari 38% pada 2024 menjadi sekitar 50% di tahun 2025. Proporsi ini tergolong tinggi dibanding bursa negara lain yang umumnya didominasi investor institusi.

Demografi investor ritel ini pun didominasi anak muda. Data OJK menunjukkan lebih dari 70% investor ritel berasal dari kalangan Generasi Z dan Milenial.

Melihat fenomena tersebut, Mahendra menegaskan urgensi memperketat aspek pelindungan investor. Risiko praktik curang seperti manipulasi pasar, transaksi semu, hingga aktivitas "goreng saham" harus diantisipasi demi menjaga kepercayaan pemodal kecil.

OJK mendorong program literasi dan edukasi pasar modal yang lebih masif dan berkualitas. Partisipasi ritel diharapkan tumbuh sehat dan tidak terjebak pada spekulasi jangka pendek semata.

Mahendra berharap pasar saham tidak hanya dijadikan ladang mencari keuntungan instan. Instrumen ini idealnya dimanfaatkan sebagai sarana investasi jangka menengah hingga panjang untuk kesejahteraan finansial masyarakat.

"Seluruh perkembangan tersebut menjadi landasan bagi kami untuk terus mendorong perbaikan ekosistem pasar modal, termasuk penguatan integritas pasar," pungkasnya.