periskop.id – Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai keputusan mundur berjamaah para pejabat teras Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bukan sekadar bentuk tanggung jawab moral semata, melainkan konfirmasi nyata atas adanya masalah struktural akut di pasar modal. Ia menyebut krisis ini merupakan puncak dari akumulasi masalah akibat pembiaran jangka panjang yang kini mencapai titik didih.
“Mundurnya pejabat yang langsung membawahi pengawasan pasar modal dan transaksi efek memperkuat persepsi bahwa agenda reformasi membutuhkan pendekatan yang lebih tegas, konsisten, dan berani, khususnya dalam penegakan aturan terhadap emiten dan pelaku pasar yang tidak memenuhi standar tata kelola,” tegas Hendra dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (31/1).
Menurut Hendra, dari kacamata pasar, peristiwa ini menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi industri keuangan saat ini bukanlah guncangan sesaat. Krisis kepercayaan yang terjadi merupakan puncak gunung es dari tumpukan masalah yang tidak diselesaikan secara tuntas selama bertahun-tahun.
Ia memandang pengunduran diri tersebut seolah menjadi validasi bahwa pengawasan selama ini belum efektif. Reformasi pasar modal yang didengungkan kerap kali berjalan lambat sehingga celah-celah pelanggaran tata kelola terus terbuka.
Kondisi ini diperparah dengan momentum tekanan tajam pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sorotan negatif dari MSCI terhadap kualitas pasar modal Indonesia turut memperkeruh suasana, membuat investor asing kian waspada.
“Bagi investor, terutama investor asing, stabilitas dan kontinuitas kepemimpinan regulator merupakan fondasi utama dalam menilai risiko pasar, sehingga peristiwa ini secara alami memperbesar tekanan psikologis dan memperkuat sikap defensif pelaku pasar,” jelasnya.
Ketidakpastian ini tercermin jelas di lantai bursa. IHSG bergerak sangat volatil dengan rentang lebar di kisaran 8.210 hingga 8.550. Pergerakan liar ini menandakan pasar sedang bingung mencari pegangan di tengah kekosongan kepemimpinan regulator.
Hendra menganalisis, fluktuasi tersebut menggambarkan tarik-menarik antara kepanikan akibat ketidakpastian institusional melawan nafsu belanja saham murah (bargain hunting). Namun, tanpa kejelasan struktural, sentimen negatif lebih mudah mendominasi.
“Pola pergerakan tersebut mengindikasikan bahwa pasar belum memiliki keyakinan arah yang solid, sehingga setiap katalis negatif mudah memicu tekanan jual, sementara sentimen positif hanya mampu mendorong penguatan terbatas dan bersifat teknikal,” tambah Hendra.
Oleh karena itu, ia mendesak agar momentum "titik didih" ini dimanfaatkan untuk perbaikan menyeluruh. Pergantian pejabat harus diikuti dengan kebijakan konkret seperti penegakan exit policy, transparansi kepemilikan saham, hingga aturan free float yang lebih ketat.
Publik dan pelaku pasar kini menanti bukti nyata. Apakah drama pengunduran diri ini akan berujung pada reformasi struktural yang menyembuhkan, atau justru hanya memperpanjang krisis kepercayaan yang sudah ada.
“Pada akhirnya, pasar akan menilai bukan pada siapa yang mundur, melainkan pada apa yang dilakukan setelahnya. Kecepatan penunjukan pengganti, kejelasan arah kebijakan, serta bukti nyata penegakan aturan akan menjadi penentu,” pungkas Hendra.
Tinggalkan Komentar
Komentar