Periskop.id - Pengesahan Rancangan Undang-Undang tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia (RUU PFII) menjadi Undang-Undang (UU) resmi dilakukan oleh DPR RI dalam Rapat Paripurna pada Selasa (21/7).
Keputusan strategis ini menjadi tonggak sejarah baru yang menandai keseriusan Indonesia dalam membangun ekosistem keuangan berskala global.
Kendati demikian, hadirnya sebuah pusat finansial internasional tak sekadar membutuhkan regulasi yang kuat dan infrastruktur fisik yang megah, melainkan juga ketersediaan sumber daya manusia atau talenta keuangan yang adaptif, kompeten, dan berdaya saing tinggi.
Pengalaman dari pusat keuangan dunia seperti Singapura yang terekam dalam laporan The Global Financial Centres Index 39 memberikan pelajaran berharga.
Negeri Singa berhasil tumbuh berkat basis talenta lokal yang kuat serta dukungan sistem pendidikan berkelas dunia. Kendati demikian, tantangan seperti pengetatan visa kerja tenaga asing dan tingginya biaya hidup menunjukkan betapa kompetitifnya perburuan talenta global, khususnya di sektor teknologi finansial (fintech).
Ketersediaan talenta serta fleksibilitas pasar tenaga kerja menjadi ciri utama pasar yang matang, sekaligus menjadi penopang bagi pertumbuhan industri pendukung seperti hukum, akuntansi, hingga properti.
Tiga Pilar Pengembangan Sumber Daya Manusia di Sektor Finansial
Guna mempertahankan inovasi dan daya saing di tengah ketatnya kompetisi global, pilar sumber daya manusia memegang peranan yang sangat vital.
Terdapat tiga poin utama yang patut dicermati oleh para pelaku industri dan pembuat kebijakan guna meningkatkan daya saing Pusat Finansial Internasional Indonesia.
- Penguatan Ekosistem Pendidikan dan Akses Talenta Global
Ketersediaan universitas berkualitas, program pengembangan profesional berkelanjutan, serta kemampuan menarik talenta internasional merupakan fondasi utama untuk menjaga daya saing industri keuangan. - Fleksibilitas Regulasi Ketenagakerjaan
Perusahaan membutuhkan kemampuan untuk merekrut, memperbesar, serta menyesuaikan skala tenaga kerja mereka secara cepat. Peraturan ketenagakerjaan yang terlampau kaku dapat menjadi penghambat masuknya investasi. - Daya Tarik Kualitas Hidup dan Kemudahan Karier
Dalam memilih lokasi berkarier, para profesional global tak hanya mempertimbangkan besaran gaji. Kualitas hidup, kemudahan prosedur visa, kefasihan bahasa internasional masyarakat, serta kejelasan peluang karier menjadi pertimbangan utama.
Pentingnya Adaptasi terhadap Kecerdasan Buatan
Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menegaskan bahwa peningkatan digitalisasi menjadi pendorong utama transformasi sektor jasa keuangan dan pasar modal dalam beberapa tahun mendatang.
Kondisi ini berjalan seiring dengan upaya adaptasi terhadap perubahan iklim dan dinamika pertumbuhan ekonomi global. Sektor keuangan menjadi salah satu industri yang paling masif terdampak oleh adopsi kecerdasan buatan atau AI, di mana hanya 5% pemberi kerja yang memperkirakan tak akan ada adopsi AI secara signifikan pada 2030.
Sebagai dampaknya, kombinasi keterampilan di bidang AI, pengolahan big data, literasi teknologi, serta keamanan siber menjadi keahlian yang paling dicari.
Di samping itu, sekitar 58% perusahaan di industri keuangan menjadikan skema kerja jarak jauh dan hibrida sebagai strategi utama untuk menjaga daya tarik perusahaan.
Sektor ini juga melangkah lebih maju dalam menerapkan perekrutan berbasis keterampilan (skills-based hiring) dengan mengikis syarat gelar formal, sebuah langkah yang telah dirancang oleh 28% perusahaan global di sektor ini.
Deretan Profesi Operasi Bisnis dan Keuangan yang Paling Diminati
Seiring dengan menguatnya status Indonesia sebagai pusat finansial internasional, kebutuhan akan spesialis di bidang operasi bisnis dan keuangan akan terus meningkat.
Mengacu pada klasifikasi World Economic Forum, beberapa garis profesi utama yang diproyeksikan memegang peran kunci meliputi aspek-aspek berikut.
- Analis dan Pengelola Keuangan
Profesi seperti Analis Keuangan, Penasihat Keuangan dan Investasi, Manajer Dana Investasi, serta Analis Kredit dan Pinjaman (Credit and Loans Officers) tetap menjadi inti dari pergerakan modal. - Spesialis Teknologi dan Transmisi Data
Kebutuhan akan Big Data Specialist, Spesialis Transformasi Digital, hingga Business Intelligence Analysts menjadi sangat krusial untuk menopang sistem keuangan berbasis digital. - Manajemen Risiko, Regulasi, dan Kepatuhan
Profesional di bidang Compliance Officers, Spesialis Manajemen Risiko, Regulatory and Government Associate Professionals, serta penilai risiko seperti Claims Adjusters dan Insurance Underwriters sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas hukum dan operasional. - Pemasaran Digital, Strategi, dan Pengembangan Talenta
Lini pendukung seperti Digital Marketing and Strategy Specialists, Social Media Strategist, E-commerce Specialists, hingga Technical Recruiters dan Training and Development Specialists berperan penting dalam memperluas jangkauan pasar dan merawat kualitas SDM.
Pengesahan UU PFII pada pertengahan tahun 2026 ini memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia siap mengambil peran lebih besar dalam peta keuangan dunia. Keberhasilan transformasi ini akan sangat bergantung pada seberapa cepat para tenaga kerja lokal dan pelaku industri mampu beradaptasi dengan kebutuhan keterampilan masa depan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar