Periskop.id - Head of Supervisor Board Intelligent Transport System (ITS) Indonesia Prof Bambang Susantono mengungkapkan, kemacetan di Jakarta tidak dapat dihilangkan tetapi dapat dikelola. Dengan terkelola, macet jadi tidak terlalu membebani masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Kemacetan tidak dapat dihilangkan untuk kota megapolitan sebesar Jakarta ini tapi bisa di manage,” kata dia usai memberikan paparan di "Indonesia International Transport Summit (IITS)" di Jakarta, Kamis (27/11). 

Menurut dia, untuk mengelola kemacetan secara klasik dapat dilakukan dengan push and pull. Untuk push dilakukan dengan cara memaksa orang tidak menggunakan kendaraan pribadi, sehingga dapat mengurangi kemacetan.

Sementara pull dapat dilakukan dengan membuat transportasi publik menjadi lebih menarik, sehingga masyarakat menggunakan dalam aktivitas harian. Menurutnya, saat ini transportasi publik di Jakarta sudah mulai beragam dan ada perbaikan di sejumlah sisi.

Kondisi saat ini sudah bagus tapi jika dilihat dari kebutuhan, layanan transportasi publik yang ada saat ini harus ditingkatkan. “Kalau dari segi kebutuhan masyarakat tentu kondisi saat ini masih jauh,” kata mantan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) itu.

Ia memaparkan kemacetan di Jakarta di jam sibuk yang terjadi secara monosentris dari daerah Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek) menuju Jakarta di pagi hari. Kondisi sebaliknya terjadi pada sore harin.

Pergerakan masyarakat di jam sibuk terjadi di waktu bersamaan terjadi baik menggunakan transportasi publik maupun kendaraan pribadi. Karena itu, pemerintah dapat memberikan insentif kepada mereka yang tidak menggunakan transportasi di jam tersebut.

Kemudian space atau jalan yang digunakan masyarakat secara bersamaan dan pertumbuhan jalan yang rendah, dapat disikapi pemerintah dengan melakukan upaya pembatasan ganjil dan genap.

“Bisa juga meniru yang dilakukan di Singapura, yakni 'Electronic Road Pricing' (ERP) atau sistem jalan berbayar elektronik,” imbuhnya. 

Terakhir, pemerintah dapat memberikan insentif kepada warga yang beraktivitas menggunakan transportasi public, dengan memberikan diskon harga atau menggratiskan.

“Saat ini sudah banyak negara di dunia menjadikan transportasi publik sebagai hak untuk mobilitas sehingga menggratiskan biaya naik transportasi umum atau berikan diskon,” tuturnya.

Pondasi Pembangunan

Sementara itu, Presiden Intelligent Transport System (ITS) Indonesia, William P Sabandar dalam "Indonesia International Transport Summit" (IITS) menyebut, sistem transportasi merupakan pondasi pembangunan nasional dan ekonomi modern ditandai dengan ekosistem transportasi terpadu yang memadukan infrastruktur kuat, layanan efisien dan teknologi mutakhir.

“Transportasi publik yang andal juga menjadi salah satu indikator kemajuan negara-negara di kawasan Global South," ucapnya di Jakarta, Kamis (27/11). 

Sebagai negara kepulauan, kata dia, Indonesia mempercepat transformasi transportasi untuk meningkatkan daya saing dan kesejahteraan sosial. ITS berusaha memperkuat kolaborasi, mendorong inovasi dan memajukan masa depan mobilitas yang lebih cerdas, aman dan terhubung melalui kegiatan "Indonesia International Transport Summit (IITS) 2025" yang digelar pada 26-27 November 2025.

IITS 2025 menjadi platform utama bagi rangkaian dialog kebijakan, kolaborasi industri, hingga penyampaian solusi melalui momentum "Jakarta Declaration on Sustainable and Intelligent Urban Mobility" yang diluncurkan pada ITS Asia Pacific Forum 2024. Konferensi perdana ini berusaha menegaskan peran kepemimpinan Indonesia dalam memajukan ITS di kawasan Asia-Pasifik.

Selama konferensi berlangsung, aktor kebijakan, regulator, pimpinan industri dan swasta, lembaga keuangan, penyedia teknologi, peneliti dan organisasi internasional akan berkumpul untuk membahas tren terkini. Termasuk perkembangan regulasi dan peluang investasi yang dapat memperkuat ekosistem mobilitas nasional dan regional.

"Program ini mencakup sesi diskusi panel tematik, pertemuan bisnis dan kesempatan berjejaring serta pameran yang menampilkan berbagai inovasi mobilitas terkini,” kata dia.

"IITS 2025" sendiri menghadirkan lima jalur tematik strategis yang dirancang untuk mendukung pengembangan ekosistem transportasi yang modern, terhubung dan berkelanjutan.

Pertama, teknologi mobilitas terobosan dan solusi logistik end-to-end, termasuk EV, sistem otonom, drone, AI logistik, inovasi hidrogen dan infrastruktur cerdas. Kemudian memperkuat kerangka tata kelola, sistem regulasi dan model pembiayaan yang memungkinkan integrasi dan peningkatan skala inisiatif ITS.

Selanjutnya, mengutamakan akses mobilitas, keterjangkauan, kualitas layanan dan desain inklusif untuk memastikan mobilitas yang adil bagi seluruh komunitas. Kemudian menggali peluang dalam ekonomi mobilitas yang berkembang pesat, termasuk investasi publik-swasta, ekosistem startup, platform digital serta kapasitas manufaktur domestik.

Terakhir, meningkatkan konektivitas intermodal dan multimodal melalui integrasi sistem laut, udara, darat dan logistik yang sangat relevan bagi negara kepulauan.

“IITS 2025 akan menghadirkan lebih dari 500 peserta serta berkomitmen menjadi platform strategis dalam membentuk agenda transportasi dan mobilitas cerdas dan berkelanjutan di kawasan,” imbuhnya.