periskop.id - Mata uang rupiah kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan hari ini, Kamis 27 November 2025. Rupiah ditutup di level Rp16.636 per dolar AS, naik 28 poin dari penutupan sebelumnya di Rp16.664, setelah sempat menguat 30 poin di sesi siang.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah hari ini masih banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal.

"Indeks dolar AS yang melemah memberi ruang bagi rupiah untuk menguat, meskipun faktor global lain tetap perlu diwaspadai," ujarnya, Kamis (27/11).

Salah satu faktor global yang menarik perhatian pasar adalah kemungkinan suksesi Ketua The Fed. Bloomberg melaporkan bahwa Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, dipandang sebagai kandidat kuat pengganti Powell.

Ibrahim menjelaskan, jika Hassett terpilih dan menurunkan suku bunga secara agresif, tekanan dolar terhadap mata uang emerging market seperti rupiah bisa berkurang.

Selain itu, Ibrahim menyoroti kondisi pasar properti Tiongkok. Pemerintah Beijing sedang mempertimbangkan stimulus tambahan untuk sektor properti yang melemah, termasuk subsidi konsumen dan dorongan untuk meningkatkan belanja domestik.

"Langkah ini bisa menjadi katalis positif bagi rupiah, setidaknya dalam jangka pendek," tambahnya.

Di sisi domestik, pemerintah tetap optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memperkirakan pertumbuhan berada di kisaran 5,4–5,6%, sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan bisa mencapai 5,7%.

Ibrahim menilai optimisme pemerintah menjadi salah satu penopang stabilitas rupiah. Kebijakan pemerintah melalui BLT, bantuan beras, dan program minyak goreng membantu menjaga rupiah tetap stabil, meski volatilitas tetap ada. Mengenai perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif. 

"Rupiah kemungkinan berada di kisaran Rp16.630–Rp16.660 per dolar AS, dipengaruhi kombinasi sentimen global dan data ekonomi domestik," ujarnya.

Secara keseluruhan, meski rupiah mencatat penguatan hari ini, Ibrahim mengingatkan bahwa tekanan dari faktor eksternal seperti suku bunga AS dan dinamika ekonomi Tiongkok tetap perlu dicermati.

"Investor sebaiknya tetap berhati-hati dan memantau perkembangan global maupun kebijakan domestik yang berdampak pada pergerakan rupiah," tutupnya.