Periskop.id – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tampaknya masih menjadi andalan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memitigasi banjir di wilayah Jakarta. Padahal, jika dicermati, banjir tetap terjadi di banyak titik di Jakarta. 

Di Sabtu (24/1) ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta kembali melanjutkan OMC pada hari kesembilan, sebagai bagian dari mitigasi bencana hidrometeorologi dengan tiga kali penerbangan.

"Seluruh pelaksanaan OMC dilakukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer dan pemantauan cuaca secara intensif, sehingga penyemaian ke awan dapat diarahkan ke wilayah yang lebih aman," kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta Isnawa Adji di Jakarta, Sabtu. 

Isnawa menyampaikan, pelaksanaan OMC pada hari kesembilan merupakan bagian dari langkah mitigasi dini dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Lebih lanjut, Isnawa menegaskan, BPBD Provinsi DKI Jakarta terus melakukan evaluasi harian terhadap efektivitas OMC. 

Termasuk memperkuat koordinasi lintas instansi guna memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem di DKI Jakarta dan sekitarnya. Menurutnya, OMC dilaksanakan melalui tiga kali penerbangan pesawat CASA 212 A-2105 yang berpangkalan di Bandara Halim Perdanakusuma.

Operasi ini merupakan hasil sinergi dan koordinasi antara BPBD Provinsi DKI Jakarta, BNPB, BMKG, TNI Angkatan Udara, serta pihak terkait lainnya. Penerbangan pertama dilaksanakan, dengan fokus penyemaian awan di Bekasi dan sekitarnya. 

Misi utama adalah memecah awan potensial pembentuk hujan agar tidak berkembang dan bergerak menuju DKI Jakarta.

"Penyemaian dilakukan pada ketinggian 7.000-8.000 kaki dengan target awan stratocumulus. Berdasarkan hasil pengamatan. Pada penerbangan ini digunakan bahan semai berupa kalsium oksida (CaO) sebanyak 800 kilogram," terangnya. 

Penerbangan kedua, katanya, dilaksanakan dengan misi OMC hidrometeorologi DKI Jakarta. Penyemaian awan difokuskan pada wilayah di atas Kabupaten Bogor dengan ketinggian penerbangan 5.000-7.000 kaki.

Area semai berada pada radial 180-270 derajat dengan jarak 10–20 mil laut dari Bandara Halim Perdanakusuma dengan bahas semai berupa kalsium oksida juga sebanyak 800 kilogram. 

Kemudian, penerbangan ketiga dilaksanakan dengan fokus penyemaian awan di atas Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 5.000-7.000  kaki, dengan area semai pada radialm090-120 derajat.

"Juga disemai kalsium oksida sebanyak 800 kilogram," cetusnya. 

BPBD Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir dan angin kencang. Masyarakat juga diharapkan berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan dan saluran air untuk meminimalisir risiko genangan dan banjir.

Penanganan Bertahap
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, perlu kerja sama dan penanganan bertahap, untuk menangani banjir di daerah itu baik mulai dari jangka pendek, maupun menengah dan panjang.

"Tanpa upaya bersama, banjir berpotensi terulang. Pemerintah dan masyarakat harus bergotong royong menjaga lingkungan," kata Pramono di Jakarta, Sabtu.

Pramono menyampaikan, penyumbatan sampah di sungai telah mengalami penurunan signifikan. Menurutnya, kali ini banjir yang terjadi lebih disebabkan oleh curah hujan ekstrem yang mencapai rata-rata 200 milimeter per hari, bahkan hingga 260 milimeter di beberapa titik.

Ia mengungkapkan, Pemprov DKI sudah memetakan penanganan banjir mulai dari jangka menengah, pendek dan jangka panjang. Ia melanjutkan, normalisasi tiga sungai utama, yakni Sungai Ciliwung, Sungai Krukut dan Sungai Cakung Lama menjadi upaya penanganan banjir jangka menengah dan panjang.

Adapun untuk penanganan jangka pendek, dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pembersihan saluran air, serta imbauan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.

"Karena curah hujan yang ekstrem ini, kebijakan 'work from home' (kerja dari rumah) dan 'school from home' (sekolah dari rumah) telah kami setujui dan surat edarannya sudah dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan serta Dinas Tenaga Kerja," tuturnya,

Sebelumnya, sejak Jumat (23/1) hingga Sabtu pagi ini banjir masih berlangsung pada banyak titik di seluruh Jakarta akibat curah hujan ekstrem dan luapan sungai.  Akibatnya, lebih dari 125–143 rukun tetangga (RT) terdampak di berbagai wilayah termasuk Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Utara dan Pusat. 

Ketinggian air bahkan mencapai sekitar 1,2 meter di beberapa lokasi, jalan-jalan utama tergenang memicu gangguan transportasi dan kemacetan besar.  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah mengimbau kerja dari rumah (work from home/WFH) dan belajar dari rumah sampai minimal 27 Januari 2026 demi keselamatan dan mengurangi kepadatan lalu lintas. 

Polisi dan tim SAR dikerahkan membantu lalu lintas, evakuasi dan keamanan warga terdampak.  Hujan deras yang tak kunjung berhenti dan meluapnya sungai-sungai besar di Jakarta menjadikan titik banjir semakin luas. 

Curah hujan berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), diperkirakan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. Denga begitu, potensi genangan dan luapan sungai masih mungkin meningkat.