periskop.id - Cuaca ekstrem yang melanda Jakarta membuat sejumlah jalan rusak dan berlubang belum bisa segera diperbaiki. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya ingin segera melakukan penanganan, namun kondisi hujan deras yang diprediksi berlangsung hingga awal Februari menjadi kendala utama.

“Kalau kita lakukan sekarang pasti satu-dua hari akan terkelupas kembali,” ujar Pramono dikutip dari Antara, Selasa (27/1). 

Ia menambahkan, sekadar menambal jalan tidak cukup, terutama di ruas-ruas besar seperti Jalan Gatot Subroto. 

“Bukan hanya menambal, tetapi membuat aspal yang baru. Dan itu perlu waktu,” katanya.

Pramono memastikan, begitu cuaca membaik, Dinas Bina Marga akan segera turun tangan memperbaiki jalan rusak. Ia menekankan bahwa anggaran bukan menjadi masalah, sehingga perbaikan bisa langsung dilakukan setelah hujan reda.

Selain urusan jalan, pemerintah Jakarta kini fokus pada mitigasi banjir. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) diperpanjang hingga 1 Februari karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi curah hujan tinggi masih akan mengguyur ibu kota.

Langkah jangka panjang juga ditempuh melalui normalisasi sungai. Salah satunya Kali Cakung Lama Rawa Indah di Cilincing, Jakarta Utara, yang ditargetkan rampung pada 2027. Sejak Oktober 2024, pengerukan dilakukan bertahap dengan target 45.000 meter kubik sedimentasi. Hingga kini, sekitar 13.000 meter kubik sudah berhasil dikeruk.

Menurut data Kementerian PUPR, kerusakan jalan akibat genangan air dan banjir bisa meningkat hingga 30% lebih cepat dibanding kondisi normal. 

Jalan berlubang bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Catatan Korlantas Polri menunjukkan, sepanjang 2025 terdapat lebih dari 1.200 kasus kecelakaan di Jakarta yang dipicu kondisi jalan rusak.