Periskop.id - Ratusan rumah warga di Kampung Sawah, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur (Jaktim), terendam banjir akibat luapan Kali Cakung, Kamis (29/1) pagi.
"Di sini sudah lebih dari dua kali kebanjiran setiap hujan deras yang cukup lama, pasti banjir," kata salah satu warga Cakung yang bernama Dewi (38) di Jakarta Timur, Kamis.
Ketinggian air di sejumlah titik dilaporkan mencapai hingga satu meter. Banjir mulai menggenangi permukiman warga tersebut sejak pagi hari. Sejumlah warga memilih bertahan di dalam rumah meskipun air terus naik dan merendam lantai rumah mereka.
Dewi menyebutkan, hujan dengan intensitas cukup tinggi dan durasi yang lama mengguyur sebagian wilayah Ibu Kota Jakarta sejak Kamis dini hari hingga pagi hari, sehingga menjadi pemicu utama banjir. Curah hujan tersebut menyebabkan debit air Kali Cakung meningkat hingga akhirnya meluap ke kawasan permukiman padat penduduk.
"Kalau hujan deras, waktunya juga lama, jadi air di Kali Cakung meningkat," ucap Dewi.
Terlihat ratusan rumah warga terendam air berwarna cokelat. Aktivitas warga pun terganggu, sementara kendaraan roda dua maupun roda empat sulit melintas di beberapa ruas jalan lingkungan.
Sampai dengan saat ini, warga masih memantau kondisi ketinggian air dan berharap banjir segera surut. Belum ada laporan mengenai pengungsian maupun korban akibat peristiwa tersebut.
Rendam 20 RT
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan, saat ini terdapat 20 rukun tetangga (RT) serta lima ruas jalan di Jakarta Timur dan Barat yang terendam banjir dengan ketinggian setengah meter hingga 1,5 meter."Kami mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Mohamad Yohan di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, banjir yang merendam sejumlah permukiman warga di kedua wilayah itu disebabkan hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya pada Rabu (28/1), sehingga menyebabkan kenaikan air di Bendung Katulampa menjadi Waspada/Siaga 3.
Kemudian, lanjut Yohan, beberapa pos pantau juga menunjukkan peningkatan debit air, sehingga menyebabkan Sungai Ciliwung dan Pesanggrahan meluap dan mengakibatkan 17 RT terendam banjir. Terkait ketinggian air yang masuk ke pemukiman penduduk, kata dia, khususnya di Jakarta Timur, mencapai 1,3-1,5 meter sedangkan di Jakarta Barat rerata 30 cm.
"Penyebab curah hujan tinggi dan luapan Sungai Ciliwung serta Kali Pesanggrahan," ujar Yohan.
Banjir setinggi sekitar 40 sentimeter (cm) juga menghambat aktivitas warga di ruas Jalan Bujana Tirta, Kelurahan Pisangan Timur, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis pagi. Genangan air muncul setelah hujan deras mengguyur wilayah Jakarta sejak Rabu (28/1) malam.
"Iya, karena banjir, jadi arus lalu lintas di jalan juga susah, gak bisa dilalui kendaraan dalam beberapa waktu," kata pengendara motor yang bernama Jaka (37) di Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis.
Macet dan Motor Mogok
Sejumlah pengendara sepeda motor pun terpaksa menghentikan perjalanan mereka dan menepi untuk menghindari kerusakan mesin akibat terendam air. Sebagian pengendara lainnya tetap nekat menerobos banjir. Namun, banyak kendaraan yang akhirnya mogok setelah air masuk ke dalam mesin, khususnya sepeda motor.
"Keadaannya begini, harus tetap kerja, tapi jalanan banjir, jadi kita terobos. Eh, malah air masuk knalpot, jadinya ga nyala mesin," ucap Jaka.
Senada, puluhan sepeda motor mengalami mogok mesin akibat menerobos tingginya banjir yang menggenangi Jalan DI Panjaitan, Jatinegara, Jakarta Timur (Jaktim), Kamis pagi.
"Iya, ini motor saya lagi mogok, gak mau nyala mesinnya tadi pas saya terobos jalanan di sini," kata salah satu pengendara sepeda motor yang bernama Farid (34) di Jalan DI Panjaitan, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis.
Hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sejak pagi membuat ketinggian air mencapai sekitar 50 sentimeter (cm) atau setengah ban kendaraan. Farid mengakui kendaraannya mogok saat melintas di ruas jalan tersebut akibat air banjir yang masuk ke knalpot.
Menurut dia, hujan yang turun sejak Kamis pagi telah membuat genangan air semakin tinggi dan sulit dilalui kendaraan roda dua. "Kebetulan dari pagi hujan terus. Jalanan di DI Panjaitan jadi banjir, air masuk ke knalpot. Ketinggian air setengah ban, sekitar 50 sentimeter ada," ujar Farid.
Dia menjelaskan, mesin motornya tidak dapat dinyalakan karena air sudah memenuhi bagian knalpot. Akibatnya, ia terpaksa menepi dan menunggu hingga kondisi memungkinkan agar kendaraannya dapat kembali dihidupkan.
"Mesin jadi belum hidup, masih banyak air di knalpot, setelah udah keluar airnya, Alhamdulillah, bisa nyala mesin," ucap Farid.
Meskipun sering melintasi Jalan DI Panjaitan dalam aktivitas sehari-hari, ia menyebut, kondisi banjir kali ini jauh lebih parah dibandingkan biasanya. Tingginya genangan membuat sepeda motor rentan mogok jika dipaksakan melintas. "Sebenarnya sering lewat sini, tapi baru kali ini mogok karena airnya tinggi," tutur Farid.
Sementara itu, banjir yang menggenangi kawasan Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat (Jakbar), menyebabkan arus lalu lintas lumpuh pada Kamis pagi. Hujan deras yang mengguyur Jakarta Barat sejak Rabu (28/1) malam hingga Kamis dini hari menyebabkan Kali Mookervart meluap.
Banjir pun menggenang di kedua jalur, baik dari arah Cengkareng menuju Grogol dekat Samsat Jakarta Barat, maupun sebaliknya, dari arah Grogol menuju Cengkareng. Genangan setinggi 30 sentimeter (cm) merendam area dekat Halte Jembatan Gantung, sementara di sekitar Halte Transjakarta Taman Kota, ketinggian air mencapai 15 cm.
Akibat genangan tersebut, kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, harus menghindari sisi jalan terdalam. Namun karena ramainya volume kendaraan, terjadi penumpukan di lajur yang lebih rendah.
Terutama di depan Apartemen Victoria, pemotor beramai-ramai melawan arus dengan mengambil jalur busway arah Grogol. Di jalur sebelahnya, antrean kendaraan telah memanjang sekitar 5,5 kilometer dari Halte Pulo Nangka hingga area dekat Gedung Mayora, Kalideres.
Kemacetan parah juga terjadi di perempatan lampu merah Cengkareng sehingga banyak pemotor memilih untuk berputar balik hingga melawan arah dan mencari jalur alternatif. Kondisi tersebut mengakibatkan lalu lintas lumpuh dan kendaraan tidak dapat bergerak sama sekali.
Tinggalkan Komentar
Komentar