Periskop.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajak 60 lansia ikut merayakan Imlek tahun 2026 di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Aksi ini idlkaukan untuk memperkuat komitmen dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang inklusif, toleran, dan ramah lansia.
Para lansia perempuan yang berasal dari berbagai wilayah di DKI Jakarta, diajak untuk melakukan jalan sehat dan berwisata menikmati keindahan ornamen khas Imlek di kawasan Bundaran HI.
“Kami ingin menghadirkan kebahagiaan di ruang publik agar dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat," kata Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta Dwi Oktavia, di Jakarta, Selasa (17/2).
Dia mengatakan, kemeriahan Imlek tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan bukti nyata bahwa Jakarta adalah rumah bagi seluruh kalangan. Dwi menyampaikan, Festival Imlek Jakarta 2026 merupakan wujud penyediaan ruang kebersamaan lintas usia dan lintas budaya.
Mengingat Imlek bukan hanya milik satu etnis, melainkan bagian dari kekayaan budaya yang dapat dinikmati oleh seluruh warga Jakarta. Kegiatan ini juga merupakan bentuk komitmen Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta dalam mendorong terwujudnya lansia yang sehat, bahagia, dan sejahtera.
Hal ini sejalan dengan visi membangun Jakarta sebagai kota inklusif yang menghargai dan melindungi keberadaan masyarakat lansia. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya mengatakan, perayaan Imlek tahun ini mengusung nilai keberuntungan, kenyamanan, keamanan, dan kebahagiaan bagi warga, sekaligus menjadi komitmen Pemprov DKI untuk mempererat kebersamaan dalam keberagaman.
"Tahun Kuda Api adalah tahun yang penuh dengan keberanian, pembaruan, dan mudah-mudahan Jakarta akan menjadi lebih baik bagi warganya. Jakarta menjadi tetap nyaman, aman dan membuat warganya bahagia," kata Pramono.
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan arah pembangunan Jakarta ke depan, tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kualitas manusia dan kebudayaan.
"Kita ingin membangun Jakarta global, bukan kepada fisik, tapi kepada manusianya. Kita tidak ada gunanya membangun fisik kalau manusianya nggak bahagia. Kekuatan Jakarta ada pada budaya seperti malam ini," ujar Rano.
Tinggalkan Komentar
Komentar