Periskop.id - Polda Metro Jaya menanggapi soal Jakarta yang didapuk sebagai kota teraman nomor dua di dunia se-Asia Tenggara, menurut Global Residence Index edisi 2026. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyebutkan hal tersebut tidak hanya hasil kerja keras kepolisian, TNI dan pemerintah saja, namun juga masyarakat yang turut menciptakan rasa aman.

"Tetapi ini wujud kesadaran masyarakat juga untuk bisa menciptakan rasa aman dan memberi ruang kepada seluruh kaum rentan, terutama perempuan dan anak berada di posisi aman setiap berjalan kaki di area-area publik," tuturnya, Jumat (10/4). 

Budi mengimbau agar masyarakat dan aparat bersama-sama memberikan rasa aman dan nyaman, baik di ruang publik maupun di ruang digital. "Bukan hanya diciptakan dari patroli kegiatan kepolisian termasuk sinergi dengan teman-teman TNI dan pemerintah kementerian-lembaga, tetapi ada perlakuan yang dilakukan oleh kita pribadi untuk menjaga jiwa raga harta benda kita sendiri," ucap Budi.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo sendiri mengaku terkejut Jakarta bisa menduduki posisi kedua sebagai kota teraman se-ASEAN menurut Global Residence Index edisi 2026.

“Itu saya sebenarnya juga surprise. Jakarta yang selama ini selalu di bawah Bangkok, Manila dan Kuala Lumpur, sekarang Jakarta posisi kedua, setelah Singapura,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta, Selasa (7/4).

Pramono mengatakan, pencapaian tersebut bisa diraih oleh Jakarta karena pada beberapa momen besar keagamaan yang lalu, ibu kota bisa menjaga keamanan dan keharmonisan.

Misalnya seperti christmas carol saat perayaan Natal, Cap Go Meh saat Imlek, pawai obor dan festival bedug saat Ramadan dan Idulfitri, hingga pawai ogoh-ogoh saat Nyepi. “Alhamdulillah, menunjukkan kuatnya keberagaman yang ada di Jakarta. Itu juga menjadi etalase atau simbol tentang Jakarta sendiri,” ujar Pramono.

Dia pun menekankan agar keamanan dan kenyamanan di Jakarta dapat terus dijaga dan ditingkatkan bersama-sama.

Kota di Asean
Seperti diketahui, Jakarta berhasil mengungguli berbagai kota besar di ASEAN, seperti Manila, Bangkok, dan Kuala Lumpur sebagai kota teraman. Adapun urutan pertama diduduki oleh Singapura dengan skor 0,90, pada posisi kedua diduduki Jakarta dengan skor 0,72.

Kemudian di urutan ketiga ada Bangkok dengan skor 0,65, disusul Vientiane dengan skor 0,61, Hanoi dengan skor 0,60 dan Kuala Lumpur dengan skor 0,57.

Berikut adalah beberapa indikator dalam menentukan skor keamanan sebuah kota menurut Global Residence Index:

  • Numbeo Index: Mengukur persepsi keamanan publik dari warga, meliputi risiko kejahatan, pencurian, dan serangan fisik.
  • Homicide rate (city & country): Tingkat pembunuhan per kapita, baik di tingkat kota maupun negara,
  • Global Peace Index: Menilai tingkat kedamaian nasional berdasarkan beberapa faktor, seperti konflik internal atau eksternal, keamanan masyarakat, dan tingkat militerisasi.
  • Security Risk: Risiko keamanan umum, misalnya ancaman terorisme, stabilitas sosial, atau kriminalitas berat.
  • Political Risk: Stabilitas politik dan risiko ketidakpastian pemerintahan.
  • Natural Disaster Risk: Potensi risiko bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, badai, dan lainnya.
  • Road Traffic Death Rate: Tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas (mencerminkan keselamatan transportasi).
  • Natural Disasters Death Rate: Jumlah (aktual) kematian akibat bencana alam.
  • Major Conflict Death Rate: Tingkat kematian akibt konflik besar di wilayah tersebut.