Periskop.id - Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta mencatat ibu kota kini memiliki lebih dari 1.600 titik pertanian perkotaan atau urban farming. Lokasi tersebut tersebar di berbagai ruang kota, mulai dari rooftop, sekolah, gang hijau, lahan tidur, hingga kelompok tani perkotaan.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok mengatakan urban farming menjadi salah satu cara memperkuat ketahanan pangan Jakarta dari tingkat rumah tangga dan komunitas. Gerakan ini dinilai penting karena sebagian besar kebutuhan pangan Jakarta masih dipasok dari luar daerah.

"Lokasi-lokasi urban farming kurang lebih 1.600 titik yang terdiri dari, seperti rooftop, sekolah, lahan-lahan tidur, gang-gang hijau, dan juga beberapa kelompok-kelompok tani sebagai sumber daya pertanian perkotaan," kata Hasudungan dalam siniar yang diadakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Rabu (24/6). 

Selain titik urban farming, Dinas KPKP juga mencatat sekitar 4.000 orang sumber daya pertanian di Jakarta yang aktif menjalankan kegiatan pertanian perkotaan. Menurut Hasudungan, angka tersebut menunjukkan minat warga terhadap urban farming terus meningkat.

Bukan untuk Jualan, Minimal Cukup untuk Rumah Sendiri

Hasudungan menegaskan urban farming tidak selalu harus diarahkan untuk produksi skala besar atau penjualan komersial. Bagi warga kota, manfaat paling dekat adalah bisa memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga dari hasil tanam sendiri.

"Kami tidak berharap masyarakat bisa menjual produk-produk yang dihasilkan dari urban farming. Minimal, mereka bisa memenuhi sendiri, tidak perlu membeli," ujar Hasudungan.

Pernyataan ini menunjukkan, urban farming di Jakarta ditempatkan sebagai strategi ketahanan pangan mikro. Warga yang menanam cabai, sayuran daun, tomat, pakcoy, kangkung, atau tanaman produktif lain di pekarangan, pot, rooftop, dan gang hijau bisa mengurangi ketergantungan pada belanja harian.

Di tengah harga pangan yang mudah bergerak, kemampuan rumah tangga memproduksi sebagian kebutuhan sendiri menjadi penting. Urban farming mungkin tidak bisa menggantikan pasokan pangan utama Jakarta, tetapi dapat menjadi bantalan kecil bagi keluarga.

Selain itu, hasil tanam sendiri juga memberi kepastian kualitas. Warga bisa mengetahui bagaimana tanaman dirawat, pupuk apa yang digunakan, dan kapan hasil panen dikonsumsi.

98% Pangan Jakarta dari Luar Daerah

Urgensi urban farming makin terasa karena Jakarta sangat bergantung pada daerah lain untuk memenuhi kebutuhan pangan. Dinas KPKP menyebut sekitar 98% pangan Jakarta berasal dari luar wilayah ibu kota.

Kondisi ini membuat ketahanan pangan Jakarta rentan terhadap gangguan distribusi, cuaca ekstrem, kenaikan biaya logistik, hingga fluktuasi pasokan dari daerah produsen.

Dalam kegiatan panen raya urban farming sebelumnya, Hasudungan juga menegaskan bahwa ketergantungan pangan dari luar daerah menjadi tantangan besar bagi Jakarta.

"Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi kami bersama masyarakat dan para pimpinan wilayah untuk terus meningkatkan produktivitas lahan yang ada di DKI Jakarta," ujar Hasudungan.

Artinya, urban farming bukan solusi tunggal. Jakarta tetap membutuhkan pasokan dari daerah produsen karena keterbatasan lahan. Namun, gerakan pertanian perkotaan dapat membantu memperkuat kemandirian pangan pada level komunitas, sekolah, kantor, RPTRA, rumah susun, dan permukiman.

Lahan Sempit Tetap Bisa Produktif

Urban farming di Jakarta berkembang karena warga mulai memanfaatkan ruang-ruang kecil yang sebelumnya tidak produktif. Lahan tidur, gang sempit, halaman sekolah, atap bangunan, taman komunitas, dan area RPTRA dapat diubah menjadi ruang tanam.

Modelnya pun tidak selalu harus menggunakan lahan tanah luas. Warga bisa memakai hidroponik, akuaponik, vertikultur, polybag, pot gantung, atau rak tanaman bertingkat. Dengan metode ini, pertanian perkotaan tetap bisa dilakukan di kawasan padat.

Hasudungan mengatakan langkah strategis Dinas KPKP adalah mendorong animo masyarakat agar memanfaatkan tempat-tempat yang masih bisa digunakan untuk bercocok tanam.

"Langkah-langkah strategis yang kami laksanakan untuk meningkatkan urban farming, yaitu dengan meningkatkan animo masyarakat melaksanakan urban farming di tempat-tempat yang bisa dimanfaatkan," tutur Hasudungan.

Manfaat urban farming juga tidak hanya menyangkut pangan. Ruang tanam di permukiman dapat memperbaiki kualitas udara, mengurangi panas mikro di lingkungan, mempercantik gang, dan memperkuat interaksi antarwarga.

Panen Raya Pernah Digelar di 807 Titik

Gerakan urban farming Jakarta tidak hanya berhenti pada pendataan lokasi. Pada Maret 2026, Pemprov DKI juga menggencarkan pertanian perkotaan melalui panen raya serentak di 807 titik se-Jakarta.

Kegiatan itu dilakukan di lima wilayah kota dan satu kabupaten. Panen raya tersebut menunjukkan, urban farming telah menyebar ke banyak komunitas, bukan hanya di kebun percontohan pemerintah.

"Kegiatan panen raya ini dihadiri oleh seluruh pimpinan wilayah dari lima wilayah kota dan satu kabupaten yang tersebar di 807 lokasi panen," kata Hasudungan saat panen raya di Cakung, Jakarta Timur.

Di Jakarta Utara, panen raya urban farming juga pernah dilakukan di 117 lokasi yang tersebar di enam kecamatan. Total hasil panennya mencapai 703 kilogram, terdiri atas 570 kilogram sayuran, 60 kilogram buah, dan 73 kilogram hasil perikanan seperti lele dan nila.

Ketua TP PKK Kota Administrasi Jakarta Utara Fida Hendra menyebut kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong kemandirian pangan warga.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan urban farming untuk mendukung kemandirian pangan di wilayah Jakarta,” ujar Fida.

Ia juga berharap urban farming memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Kami berharap kegiatan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat melalui urban farming,” tuturnya.

Festival Urban Farming 2026 Digelar di Istora Senayan

Untuk memperluas edukasi publik, Pemprov DKI Jakarta akan menggelar Festival Urban Farming pada 4-5 Juli 2026 di Istora Senayan, Jakarta. Festival ini menjadi ruang untuk memamerkan teknologi pertanian modern, produk pertanian perkotaan, dan praktik urban farming yang bisa diterapkan masyarakat.

Dalam acara tersebut, warga dapat melihat berbagai inovasi, mulai dari hidroponik, kebun komunitas, hingga produk sayuran organik. Masyarakat juga dapat mengikuti talkshow dan pelatihan terkait pertanian perkotaan.

Festival ini terbuka untuk masyarakat umum dan menjadi bagian dari upaya Dinas KPKP mengajak warga lebih aktif terlibat dalam gerakan pangan kota. Selain agenda pertanian, festival juga menghadirkan layanan lain. Hasudungan menyebut akan ada vaksinasi rabies untuk 500 ekor kucing, edukasi hewan peliharaan, serta bazar UMKM binaan Dinas KPKP.

"Ada juga kegiatan vaksinasi rabies untuk 500 ekor kucing. Kemudian, edukasi terkait hewan peliharaan, bazar UMKM (Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah) binaan Dinas KPKP," ungkap Hasudungan.

Urban Farming Jadi Gaya Hidup Kota

Dinas KPKP menilai urban farming perlu dibangun sebagai gaya hidup sehat, bukan hanya program pemerintah. Warga kota dapat menjadikan kegiatan menanam sebagai bagian dari rutinitas keluarga, edukasi anak, dan aktivitas komunitas.

Dalam festival urban farming sebelumnya, Hasudungan juga menekankan pentingnya pertanian perkotaan untuk kemandirian pangan rumah tangga dan lingkungan yang lebih produktif.

“Dengan meningkatnya urban farming, masyarakat diharapkan dapat lebih mandiri dalam mencukupi kebutuhan pangan rumah tangga, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan produktif,” ucapnya. 

Konsep ini relevan untuk Jakarta yang padat penduduk dan minim lahan pertanian. Makin banyak warga yang menanam, makin besar pula peluang munculnya lingkungan yang produktif, hijau, dan lebih sadar pangan.

Urban farming juga bisa menjadi sarana edukasi. Anak-anak sekolah dapat belajar asal-usul makanan, proses menanam, pentingnya air, perawatan tanaman, hingga pengelolaan sampah organik menjadi kompos.

Tantangan: Konsistensi dan Skala Produksi

Meski jumlah titik urban farming sudah banyak, tantangannya tetap besar. Tidak semua lokasi bisa produktif secara konsisten. Sebagian kegiatan urban farming sering bergantung pada semangat komunitas, bantuan bibit, pelatihan, dan pendampingan awal.

Jika pendampingan berhenti, beberapa kebun komunitas bisa mati. Karena itu, program urban farming membutuhkan sistem pembinaan berkelanjutan, mulai dari penyediaan benih, pelatihan teknis, akses pupuk, pengendalian hama, hingga pemanfaatan hasil panen.

Tantangan lain adalah skala produksi. Dengan keterbatasan lahan, urban farming tidak bisa langsung menutup kebutuhan pangan Jakarta. Namun, ukuran keberhasilannya tidak harus selalu tonase besar. Pada level rumah tangga, panen kecil pun bisa berarti penghematan belanja, edukasi pangan, dan ruang hijau tambahan.

Karena itu, urban farming perlu ditempatkan sebagai pelengkap sistem pangan kota. Jakarta tetap membutuhkan kerja sama pasokan pangan dengan daerah penyangga dan produsen utama. Namun, di dalam kota, warga juga bisa mengambil peran melalui produksi pangan skala kecil.