Periskop.id — Halaman sekolah di Jakarta didorong tidak lagi berhenti sebagai ruang penghijauan dan pelengkap estetika. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ingin lahan yang tersedia diubah menjadi kebun produktif, tempat pengolahan sampah, sekaligus ruang belajar terbuka bagi peserta didik.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan kebiasaan memilah sampah dan memanfaatkan lahan terbatas sejak usia sekolah. Program itu juga diharapkan membantu ketahanan pangan skala lingkungan melalui pertanian perkotaan atau urban farming.
“Mari optimalisasi lahan sekolah untuk urban farming, untuk kegiatan-kegiatan yang memang olah sampah, pilah sampah,” kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana dalam seminar daring “Membangun Budaya Sekolah Peduli Lingkungan melalui Pengelolaan Sampah dan Optimalisasi Ruang Hijau”, Selasa (21/7).
Ruang Hijau Menjadi Laboratorium Terbuka
Menurut Nahdiana, ruang hijau sekolah seharusnya dapat digunakan untuk mempertemukan teori dengan praktik. Murid tidak hanya mempelajari lingkungan dari buku, tetapi juga menanam, merawat tanaman, membuat kompos, serta mengamati siklus bahan organik secara langsung.
Pendekatan tersebut sejalan dengan program Urban Sustainability Education yang dikembangkan Dinas Pendidikan DKI. Program ini memperkenalkan ketahanan pangan, kepedulian lingkungan, mitigasi risiko perkotaan, dan penyelesaian masalah kota melalui pengalaman praktis. Pada Desember 2025, program tersebut melibatkan 1.799 pelajar dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK.
Selain menjadi kebun, lahan sekolah dapat dimanfaatkan untuk pengomposan sampah makanan dan daun. Hasil kompos kemudian dapat digunakan kembali untuk menyuburkan tanaman sehingga terbentuk siklus yang tidak berhenti pada pengumpulan dan pembuangan sampah.
JOSS Pantau Pengurangan Sampah Sekolah
Dinas Pendidikan DKI juga meluncurkan gerakan Jaga dan Olah Sampah Sekolah atau JOSS. Program ini mendorong warga sekolah mengurangi sampah sejak sumbernya, lalu memisahkannya menjadi sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun atau B3, serta residu.
JOSS tidak hanya menjadi slogan. Program tersebut dilengkapi Sistem Pelaporan Reduksi Sampah untuk memantau pengurangan dan pengelolaan sampah di seluruh satuan pendidikan. Peluncurannya merupakan bagian dari pelaksanaan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengelolaan Sampah dari Sumber.
“Masalah sampah di Jakarta adalah tantangan nyata yang berada di depan mata. Jadi kita tidak bisa lagi menutup mata, bahwa ini urusan sampah sudah selesai ketika truk itu membawa sampah keluar dari gerbang sekolah,” ucap Nahdiana.
Pernyataan tersebut menyoroti kebiasaan lama yang menganggap persoalan selesai setelah sampah diangkut. Padahal, sampah yang tercampur tetap menambah beban pengangkutan, pengolahan, dan penimbunan di TPST Bantargebang.
“Jadi paradigma lama tentang sampah dan pola pikir linear yakni kumpul, angkut, buang, menjadi paradigma sirkuler yakni pilih, pilah, pulihkan,” serunya.
Pilah Sampah Mulai Kurangi Truk ke Bantargebang
Dorongan kepada sekolah berjalan bersama strategi Pemprov DKI mengurangi ketergantungan terhadap Bantargebang. Pemprov mencatat ritase truk sampah yang masuk ke fasilitas tersebut turun dari sekitar 1.200 menjadi 900 truk per hari setelah gerakan pemilahan dari sumber diperluas.
Penurunan sekitar 300 ritase belum berarti masalah sampah Jakarta selesai. Namun, angka tersebut memperlihatkan bahwa pemilahan di rumah, sekolah, pasar, perkantoran, dan kawasan komersial dapat mengurangi sampah yang harus dikirim ke luar Jakarta.
“Sebagai Gubernur Jakarta, saya mengharapkan betul bahwa program pilah sampah ini dijalankan dengan sebaik-baiknya,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Selain memperkuat pemilahan, Pemprov DKI berencana mengaktifkan kembali fasilitas TPS 3R dan menambah peralatan pengolahan. Tujuannya agar sampah organik serta material yang masih bernilai dapat ditangani sebelum menyisakan residu untuk dikirim ke Bantargebang.
Sekolah dapat mengambil peran dari hulu. Sampah makanan bisa diolah menjadi kompos, kertas dan plastik bersih dikirim ke bank sampah, sedangkan residu diminimalkan melalui pembatasan barang sekali pakai.
Kebun Sekolah Sudah Menghasilkan Panen
Pemanfaatan lahan sekolah untuk pertanian perkotaan bukan konsep yang sepenuhnya baru. Sejumlah sekolah di Jakarta Timur telah mengembangkan kebun dengan pendampingan Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian.
SDN Jatinegara Kaum 11 Pagi, misalnya, memiliki sekitar 1.000 meter persegi lahan kosong. Sekitar 400 meter persegi di antaranya telah digunakan untuk menanam kangkung, bayam, terong, tomat, dan cabai. Hasil panen dimanfaatkan bersama oleh pihak sekolah dan orang tua murid.
“Kita berharap dengan kegiatan ini dapat meningkatkan edukasi dan pengetahuan bagi siswa serta meningkatkan konsumsi sayuran sehat pada anak-anak,” kata Kepala Sudin KPKP Jakarta Timur Taufik Yulianto.
Program serupa juga telah diterapkan di sejumlah sekolah lain, termasuk SDN Pondok Bambu 06, SDN Pondok Bambu 14, SDN Cipinang Besar Selatan 11, dan SDN Jatinegara Kaum 03.
Kebun sekolah tentu tidak dimaksudkan menggantikan pasokan pangan utama Jakarta. Manfaat terbesarnya terletak pada pendidikan, pembentukan kebiasaan makan sehat, pemanfaatan lahan sempit, dan pengenalan proses produksi pangan kepada anak.
Jangan Berhenti pada Tempat Sampah Berwarna
Keberhasilan gerakan tersebut bergantung pada pembiasaan, bukan sekadar penyediaan tempat sampah dengan warna berbeda. Sekolah perlu memastikan sampah yang sudah dipilah tidak kembali dicampur saat diangkut.
Pengelolaan juga membutuhkan jadwal, penanggung jawab, pencatatan volume, akses kepada bank sampah, serta fasilitas kompos yang sesuai. Guru dan tenaga kependidikan harus menjadi contoh karena kebiasaan murid akan sulit terbentuk apabila sistem sekolah tidak konsisten.
“Libatkan para guru dan tenaga kependidikan untuk menjadi teladan, dan ajak anak-anak didik kita untuk menjadikan sebagai gaya hidup baru,” ujar Nahdiana.
Pemerintah Kota Jakarta Timur sebelumnya juga meminta sekolah menjadikan pemilahan sampah sebagai bagian dari pendidikan karakter, bukan kegiatan yang hanya digelar pada peringatan hari lingkungan. Sekolah dinilai strategis untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian lingkungan sejak dini.
Dengan dukungan fasilitas dan pengawasan melalui JOSS, halaman sekolah berpotensi memiliki fungsi ganda. Lahan kosong dapat menghasilkan sayuran, sampah organik berubah menjadi kompos, sedangkan murid belajar bahwa limbah tidak selalu harus berakhir di dalam truk menuju Bantargebang.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar