periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 4 Desember 2025. Rupiah sempat melemah hingga 30 poin sebelum akhirnya ditutup turun 25 poin di level Rp16.653 per dolar AS dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.628.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.650- Rp.16.690,” ulas Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Kamis (4/12).
Ibrahim menyampaikan, pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi tekanan eksternal setelah indeks dolar AS melemah di tengah meningkatnya spekulasi penurunan suku bunga The Fed. Data AS mendukung spekulasi pelonggaran The Fed. Penurunan ini terjadi meskipun pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin hampir 90% pada pertemuan The Fed 9-10 Desember, menurut perangkat CME FedWatch.
Data ketenagakerjaan ADP menunjukkan jumlah tenaga kerja swasta AS menyusut 32.000 pada November, turun dari revisi kenaikan 47.000 pekerjaan pada Oktober dan jauh dari ekspektasi pertumbuhan. Sementara itu, indeks jasa ISM mencatat ekspansi moderat, namun data turunannya menunjukkan pelemahan.
"Investor kini menunggu sinyal yang lebih pasti dari Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan September yang tertunda, tolok ukur inflasi pilihan The Fed, yang akan dirilis Jumat, untuk mengonfirmasi seberapa agresif kemungkinan penurunan suku bunga,” jelas dia.
Sentimen global juga dipengaruhi laporan media bahwa pemerintahan Trump membatalkan wawancara dengan beberapa kandidat pengganti Jerome Powell.
"Yang menambah ketidakpastian adalah laporan media bahwa pemerintahan Trump tiba-tiba membatalkan wawancara dengan beberapa kandidat pengganti Jerome Powell, memperkuat spekulasi bahwa Kevin Hassett dapat muncul sebagai ketua The Fed berikutnya. Laporan tersebut telah memperkuat ekspektasi akan sikap The Fed yang lebih dovish di bawah kepemimpinan baru,” ujar Ibrahim.
Selain itu, Ukraina kembali menyerang pipa minyak Druzhba di wilayah Tambov, Rusia tengah, yang menjadi serangan kelima terhadap jalur minyak Rusia ke Hongaria dan Slovakia. Utusan Presiden AS Donald Trump juga keluar dari perundingan damai dengan Kremlin tanpa terobosan. Trump mengatakan tidak jelas apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dari faktor domestik, Ibrahim menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung moderat. Para ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan mencapai kisaran 5% hingga 5,1%, dan mencapai 5,2% pada 2026. Proyeksi tersebut lebih rendah dari target dalam Asumsi Ekonomi Makro APBN 2025 sebesar 5,2%. Ia memaparkan bahwa pemerintah perlu mempercepat belanja negara agar target belanja fiskal dapat tercapai.
"Berdasarkan perhitungannya, apabila pemerintah ingin mencapai outlook belanja fiskal APBN, maka dalam sisa dua bulan terakhir 2025 perlu direalisasikan belanja sebesar Rp 934 triliun. Besaran belanja tersebut dinilai akan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan atau akselerasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal tersebut,” jelas Ibrahim.
Untuk kuartal IV-2025, pertumbuhan diperkirakan meningkat menjadi 5,08% dari 5,04% pada kuartal sebelumnya, terutama didorong periode Natal dan Tahun Baru. Indikator ekonomi seperti PMI yang naik ke 53,3 dan indeks keyakinan konsumen yang mencapai level tertinggi lima bulan turut memberi sinyal positif.
Tinggalkan Komentar
Komentar