periskop.id - Mata uang rupiah ditutup melemah 29 poin pada perdagangan Kamis (18/12/2025), setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 40 poin ke level Rp16.723 dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.694. Menurut Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh kondisi eksternal yang masih penuh ketidakpastian, terutama terkait data tenaga kerja dan inflasi di AS yang memberikan sinyal beragam.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp16.720-Rp16.750,” kata Ibrahim, Kamis (18/12).

Dari sisi eksternal, indeks dolar AS menguat pada Kamis (18/12/2025), menambah tekanan pada rupiah. Ketidakpastian ekonomi AS meningkat seiring dengan data resmi pemerintah yang menunjukkan sinyal yang berbeda mengenai pasar tenaga kerja. Operasi pembelian aset Federal Reserve memicu beberapa keraguan atas likuiditas pasar di negara tersebut.

Menurut Ibrahim, pasar kini menantikan data inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS yang akan datang. Prediksi saat ini menunjukkan inflasi CPI utama sedikit meningkat, sementara CPI inti diperkirakan stabil di 3% per tahun. 

“Pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar Fed untuk menyesuaikan kebijakan. Selain itu, ada kekhawatiran akan potensi periode stagflasi, di mana pengangguran meningkat seiring inflasi,” tambah Ibrahim.

Selain itu, tekanan juga muncul dari geopolitik. Pada Selasa lalu, mantan Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade terhadap kapal tanker minyak Venezuela yang telah dikenai sanksi AS, meningkatkan kekhawatiran akan gangguan ekspor minyak dari anggota OPEC tersebut.

Sementara itu, pemerintah AS disebut sedang mempersiapkan sanksi lebih ketat terhadap sektor energi Rusia jika upaya perdamaian di Ukraina gagal, yang bisa membatasi aliran minyak dari salah satu eksportir terbesar dunia.

Di sisi internal, ada kabar positif dari Bank Dunia. Dalam rilis Desember 2025, Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% pada 2025–2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya di IEP Juni 2025 yang hanya 4,7% pada 2025. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspor dan investasi yang kuat sepanjang tahun, terutama dari komoditas seperti minyak sawit, besi, baja, dan emas.

“Kebijakan moneter Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan menjadi 4,75% juga berkontribusi mempercepat pertumbuhan. Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia cukup resilient meski konsumsi swasta sedikit melemah,” kata Ibrahim.

Bank Dunia memperkirakan ekspor akan tumbuh 7% pada 2025 dan 5,6% pada 2026, sementara investasi diprediksi meningkat 6,1%-6,2%. Konsumsi swasta diproyeksikan hanya tumbuh 4,9%, dan konsumsi pemerintah meningkat dari 0,1% pada 2025 menjadi 5,8% pada 2026.