iklan periskop
Kurs

Rupiah 21 Januari 2026 Naik 20 Poin ke Rp16.936 per Dolar AS, Tekanan Global Masih Menghantui

Nilai tukar rupiah menguat 20 poin pada Rabu (21/1) meski dolar AS menguat. Rupiah diproyeksi fluktuatif di tengah tensi global dan kebijakan domestik.

6 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Uang Rupiah
Ilustrasi uang kertas dan koin dalam berbagai pecahan rupiah di atas meja. Ilustrasi: AI
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Rabu (21/1) di tengah penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada perdagangan sore ini rupiah sempat bergerak melemah sebelum akhirnya ditutup menguat.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 20 point sebelumnya sempat melemah 20 point dilevel Rp16.936 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.956,” kata Ibrahim, Rabu (21/1).

Namun, ia memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan diwarnai fluktuasi dan cenderung melemah.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp. 16.930- Rp16.950,” imbuh Ibrahim.

Dari sisi eksternal, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait isu strategis Greenland. Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ada kompromi dalam isu tersebut dengan alasan keamanan kawasan Arktik, yang memicu kekhawatiran pasar global.

“Pentingnya strategi Greenland membuat ketegangan baru antara AS dan Uni Eropa. Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa ‘tidak ada jalan mundur’ terkait Greenland,” ujarnya.

Ketegangan tersebut turut berdampak pada agenda ekonomi internasional. Penolakan Eropa terhadap langkah AS dilaporkan mengganggu pembahasan paket dukungan ekonomi pascaperang untuk Ukraina. Financial Times menyebutkan rencana kemakmuran senilai US$800 miliar yang melibatkan Ukraina, Eropa, dan AS yang semula dijadwalkan dibahas di Forum Ekonomi Dunia Davos, terpaksa ditunda, sehingga investor memilih bersikap hati-hati.

Sementara dari sisi internal, sentimen rupiah ditopang oleh kebijakan fiskal pemerintah yang bersifat ekspansif. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelebaran defisit fiskal menjadi 2,92% pada APBN 2025 merupakan langkah yang disengaja sebagai strategi countercyclical untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

“Pelebaran defisit fiskal 2,92% pada APBN 2025 atau mendekati ambang batas 3% adalah langkah sengaja guna memacu pemulihan ekonomi nasional,” kata Purbaya.

Selain itu, kebijakan moneter Bank Indonesia juga dinilai konsisten menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan, BI Rate, di level 4,75%. Meski demikian, Bank Indonesia masih membuka ruang pelonggaran moneter ke depan dengan tetap mempertimbangkan stabilitas harga.

“Ruang penurunan suku bunga terbuka lebar, namun penurunan akan dibarengi oleh perkiraan inflasi pada tahun ini yang berada di sasaran 4,5% plus minus 1%,” tandas Ibrahim.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai rupiah hari ini, Nilai tukar rupiah, dan dolar AS dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.