periskop.id - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (21/1/2026) di tengah penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya ketegangan global. Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa indeks dolar AS menguat di Rabu (21,01.26), yang turut memengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 20 point sebelumnya sempat melemah 20 point dilevel Rp.16.936 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.956,” ujar Ibrahim.
Meski ditutup menguat, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan cenderung fluktuatif.
'Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp. 16.930- Rp.16.950,” katanya.
Dari sisi eksternal, Ibrahim menyoroti meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa yang dipicu oleh pentingnya strategi Greenland. Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa tidak ada jalan mundur terkait Greenland dengan alasan kekhawatiran keamanan di kawasan Arktik, serta mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara Eropa. Sikap tersebut memperburuk kondisi pasar yang telah tertekan oleh meningkatnya risiko perdagangan global.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan Eropa tidak akan tunduk pada “para pengganggu” dan menegaskan bahwa rasa hormat serta kerja sama, bukan paksaan, seharusnya menjadi dasar hubungan antar sekutu. Pernyataan tersebut disampaikan di sela Forum Ekonomi Dunia di Davos dan mencerminkan meningkatnya keresahan Eropa terhadap retorika dan ancaman perdagangan Washington yang berkaitan dengan sengketa Greenland.
Meski Presiden AS Donald Trump berupaya menenangkan pasar dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat tengah mengupayakan solusi atas persoalan ini dan menargetkan hasil yang memuaskan NATO, investor tetap bersikap hati-hati.
Selain itu, penentangan Eropa terhadap upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland serta inisiatif “Dewan Perdamaian” yang diusulkannya telah mengganggu rencana paket dukungan ekonomi untuk Ukraina pascaperang. Financial Times melaporkan bahwa pengumuman rencana kemakmuran senilai US$800 miliar yang direncanakan akan disepakati antara Ukraina, Eropa, dan AS di Forum Ekonomi Dunia di Davos pekan ini ditunda dengan mengutip enam pejabat.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah datang dari kebijakan fiskal dan moneter pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelebaran defisit fiskal menjadi 2,92% pada APBN 2025 atau mendekati ambang batas 3% merupakan langkah yang disengaja untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional. Kebijakan tersebut diambil sebagai strategi countercyclical untuk membalikkan tren perlambatan ekonomi sepanjang 2025.
Purbaya menjelaskan intervensi fiskal yang agresif dibutuhkan untuk menghidupkan kembali sisi permintaan dan penawaran di dalam negeri. Tanpa dorongan APBN yang optimal, perekonomian nasional dinilai berisiko terperosok ke dalam krisis.
Seiring dengan itu, Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75% pada Desember 2025. Suku bunga deposit facility tetap di 3,75% dan suku bunga lending facility di 5,5%. Kebijakan ini dinilai konsisten dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global melalui penguatan transmisi moneter dan makroprudensial.
Meski mempertahankan suku bunga pada Januari 2026, Bank Indonesia menegaskan ruang penurunan suku bunga masih terbuka. Namun, langkah tersebut akan disesuaikan dengan perkiraan inflasi tahun ini yang berada pada sasaran 4,5% dengan kisaran plus minus 1%.
Tinggalkan Komentar
Komentar