periskop.id - Nilai tukar rupiah diproyeksi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu, 29 April 2026, di tengah tekanan eksternal yang masih kuat. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.240 hingga Rp17.280 per dolar AS.

“Untuk perdagangan Rabu (29/4), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.240–Rp17.280,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/4).

Sentimen eksternal masih menjadi faktor utama, terutama terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. Kebuntuan negosiasi terkait pembukaan Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Selain itu, pasar juga menantikan hasil pertemuan bank sentral AS (The Fed) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga. Namun, arah kebijakan moneter ke depan tetap menjadi perhatian pelaku pasar, terutama di tengah ketidakpastian global.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh faktor struktural. Ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek membuat nilai tukar rentan terhadap gejolak eksternal.

Dalam rilisnya, juga disoroti bahwa penggunaan narasi rupiah undervalued kerap berulang dalam berbagai kondisi.

Menurut Ibrahim, penggunaan narasi ‘rupiah undervalued’ telah bergeser dari analisis ekonomi menjadi instrumen komunikasi untuk meredam kepanikan pasar dan menjaga optimisme. Namun, narasi tersebut dinilai berpotensi menjadi problematis jika tidak diiringi dengan perbaikan fundamental ekonomi yang nyata.

“Penguatan kepercayaan terhadap mata uang tidak dapat dibangun hanya melalui narasi. Langkah tersebut harus didasarkan pada perbaikan fundamental ekonomi secara nyata,” imbuh Ibrahim.