periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (8/6), seiring penguatan indeks dolar dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan, tekanan terhadap rupiah terjadi cukup dalam sepanjang hari perdagangan.

Advertisement

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 151 point sebelumnya sempat melemah 200 point dilevel Rp.18.187 dari penutupan sebelumnya di level Rp.18.036,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin (8/6).

Dari sisi eksternal, sentimen utama datang dari memanasnya konflik di Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah serangan Israel ke Lebanon serta laporan ledakan di sejumlah kota di Iran seperti Teheran, Tabriz, dan Isfahan.

Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan minyak global, khususnya melalui Selat Hormuz, yang berdampak pada penguatan dolar AS sebagai aset safe haven. Israel dilaporkan menyerang fasilitas petrokimia di barat daya Iran, meskipun Presiden AS Donald Trump disebut telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menahan diri.

"Itu tidak akan berdampak pada kesepakatan… Saya yang menentukan. Saya yang menentukan semuanya. Dia tidak menentukan,” kata Trump.

Di sisi lain, data ekonomi AS juga turut memperkuat dolar. Penambahan tenaga kerja (non-farm payroll/NFP) pada Mei tercatat sebesar 172 ribu, jauh di atas ekspektasi 85 ribu. Sementara itu, data April direvisi naik menjadi 179 ribu dari sebelumnya 115 ribu, dengan tingkat pengangguran stabil di 4,3%.

Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan kembali di tengah risiko inflasi dari lonjakan harga energi. Pasar kini menantikan rilis data inflasi AS (CPI) yang dijadwalkan pada Rabu pekan ini sebagai penentu arah kebijakan moneter selanjutnya.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh kekhawatiran pasar atas pelebaran defisit transaksi berjalan. Hal ini dipicu oleh rencana belanja besar pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih.

Selain itu, lonjakan harga minyak mentah akibat konflik Timur Tengah berpotensi meningkatkan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM), sehingga mendorong kebutuhan dolar AS dan memperbesar utang pemerintah.

Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 sebesar US$144,9 miliar, turun dari posisi April sebesar US$146,2 miliar. Posisi ini menjadi yang terendah dalam hampir dua tahun terakhir.

Meski demikian, BI menilai cadangan devisa tersebut masih memadai, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah.

“Untuk perdagangan besok Selasa (8/6), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp. 18.180- Rp.18.230,” tutup Ibrahim.