Periskop.id - Danantara mencatat anomali dalam penerbitan global bond perdananya. Investor Amerika Serikat (AS) mendominasi pembelian obligasi tenor 10 tahun, membalik pola historis penerbitan obligasi Indonesia yang selama ini didominasi pembeli dari Asia.

Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan komposisi investor global bond perdana lembaganya terbilang tidak biasa. Menurutnya, 52% pembeli obligasi tenor 10 tahun berasal dari AS, sementara 31% dari Eropa dan Timur Tengah, dan 17% sisanya dari Asia.

Advertisement

"Historical tuh seperti itu, tapi ini justru kebalikannya, justru peminat dan yang membeli terbesarnya adalah dari Amerika Serikat," ujar Rosan dalam keterangan pers di Ruang Sidang Kabinet, Senin (15/6).

Rosan menjelaskan, pola serupa juga terlihat pada tenor 5 tahun, meski tidak sedominan tenor 10 tahun. Ia menyebut, 38% pembeli tenor 5 tahun berasal dari AS, 41% dari Eropa dan Timur Tengah, serta 21% dari Asia.

Ia menilai dominasi investor AS ini menjadi sinyal kuat kepercayaan pasar global terhadap Indonesia. Menurutnya, investor luar negeri selalu melihat investasi dari perspektif jangka panjang, bukan sekadar pergerakan harga harian.

Rosan menambahkan, tingginya minat dari AS turut mendorong oversubscribed yang signifikan. Total book building yang masuk menembus US$4,6 miliar, jauh melampaui target awal US$1 miliar, sehingga Danantara menaikkan ukuran penerbitan menjadi US$1,5 miliar.

Sebagai konteks, Danantara menggelar roadshow ke sejumlah kota sejak 3 Juni 2026, menyambangi Hong Kong, Singapura, Boston, London, hingga New York. Total 122 investor dari berbagai negara ditemui langsung oleh tim Danantara selama perjalanan tersebut.

Penerbitan ini juga menjadi yang pertama bagi Danantara sejak lembaga itu meraih rating setara sovereign rating pemerintah Indonesia dari Moody's, S&P, dan Fitch, semuanya di level investment grade. Dana hasil penerbitan dijadwalkan masuk ke rekening Danantara pada 18 Juni 2026.

"Ini membuktikan kepercayaan investor terhadap Indonesia itu ada dan tinggi," pungkas Rosan.